Jasad, Jiwa (nafs) dan Ruh

Dalam Al Ihya Ulumuddin Bab Ajaibul Qulub, Imam Al Ghazaly mengatakan, “bahkan ulama -ulama yang masyhur sekarang ini (zaman Imam Al Ghazaly : red) banyak yang tidak mengerti hal ini”. Itu pada zaman Imam Al Ghazaly. Berapa ratus tahun yang lalu. Apatah lagi sekarang? Kebanyakan orang rancu pengertiannya antara Jiwa dengan Ruh. Padahal jelas-jelas dalam Al Qur’an, Allah membedakan penggunaan kata Ar-Ruh (Ruh) dengan An-Nafs (Jiwa).

Secara umum beliau menjelaskan bahwa Ruh dalam AlQuran maknanya adalah “Nyawa” (sirruh hayah) dan juga Jibril. Sedangkan perasaan2 ketidak tenangan, kegundahan, keresahan dll itu menurut AlQuran adalah pengaruh dari NAFS (jiwa) bukan dari ruh. Nafsu sendiri tingkatannya ada 3 yaitu nafsu muthmainnah, nafsu amarah dan nafsu lawwamah

Nafsu muthmainnah adalah nafsu/jiwa yang tenang karena yakin mendapatkan ridho Allah, yaitu nafsu yang berada pada kondisi mengikuti Islam baik secara ma’rifat (aqidah), amalan dzohir (sholat, dagang, dll) dan amalan bathin (tawadhu, ikhlas, dll). Manusia harus selalu pada kondisi perbuatan fisik yang baik dan perbuatan batin yang baik agar bisa mendapatkan ketenangan. Dan tidak lain makna baik adalah semua yang baik menurut Allah , yaitu sesuatu yang wajib, mandub dan mubah dilakukan, bukan yang makruh atau yang haram. Barang yang dipergunakan pun harus barang yang halal, bukan barang yang haram. Buruk adalah semua yang buruk menurut Allah

Dari sana ke sini.

15 Respon to “Jasad, Jiwa (nafs) dan Ruh”


  1. 2 sharudin September 30, 2007 at 4:04 am

    A discussion on the basic qualities of a healthy mind and what it will enable a person to do as described in the Quran.
    Mind and reason are an essential part of Islamic thought and legislation. One could not exist without the other. What exactly do we refer to when we talk about the mind? There are two kinds of reasoning by the mind that have been identified.
    The first is intuitive reasoning that includes: the capacity to comprehend, make rational conclusions, form speech and behave sensibly. The second kind of reasoning is acquired from our environment, such as the things we have been taught or become familiarized with.
    http://www.ediscoverislam.com/evidence-creation.asp

  2. 3 shar September 30, 2007 at 4:23 am

    Jiwa adalah badan halus manusia, yang bisa bepergian – keluar dari Jasad wadag, ketika manusia sedang bermimpi, atau ketika ber ‘OBE’ ria (Out of Body Experience) atau PLB – Perjalanan Luar Badan. Jiwa, merupakan tubuh halus manusia. Jiwa memiliki perangkat-perangkat yang menyebabkan manusia dicap sebagai makhluk sosial, makhluk cerdas (Aqal), makhluk spiritual (Qolbu). Jiwa yang menanggung semua akibat perbuatan tubuh fisik dan tubuh eterik.
    http://teguh.multiply.com/journal/item/41/Definisi_Jiwa_dan_Ruh

  3. 4 shar September 30, 2007 at 4:29 am

    Pada penelitian jangka panjang (cit. Larson et al., 2000) terhadap 5.286 orang, didapatkan bahwa orang yang mengunjungi tempat ibadah sekali seminggu atau lebih, 25% lebih rendah mengalami kematian daripada yang kurang sering. Orang yang religius, secara fisik lebih sehat, mempunyai dukungan sosial yang lebih, dan gaya hidup yang lebih sehat dibandingkan yang tidak.
    http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/072006/23/geulis/konsulpaedagogi.htm

  4. 5 shar September 30, 2007 at 4:31 am

    Apabila persoalan jati diri ini dikaitkan dengan umat Islam, maka perlu kita sedari, tanpa kekuatan rohani yang ampuh umat Islam hanya maju dengan bangunan-bangunan tinggi atau binaan-binaan yang gah dan hebat tetapi hakikatnya didiami oleh insan-insan yang mati hati, muflis akhlak, bankrap jiwa serta pudar nilai keinsanannya. Umat Islam perlu segera menyedari bahawa keutuhan rohani dan keunggulan jati diri sebagai Muslim hakiki yang diintegrasikan dengan kekuatan fizikal akan berpotensi menjana ummah hadhari yang berkualiti, dirahmati dan dihormati.
    http://www.islam.gov.my/e-rujukan/lihat.php?jakim=1323

  5. 6 shar September 30, 2007 at 4:40 am

    1. Roh; adalah tubuh halus, setiap makhluk yang bernyawa mempunyai roh, roh hewani, roh nabati dan roh insani yang disebut “benda hidup”. Roh adalah ciptaan Allah, maka setiap ciptaan pasti hancur, dan setiap ‘nafs’ (jiwa) pasti mengalami mati. Roh tidak bisa dilihat oleh panca indra. “Apabila engkau ditanya tentang roh, katakan roh itu ‘urusan’ Allah, dan engkau tidak mengetahui (nya) kecuali hanya ‘sedikit’ ”. Yang kita bicarakan disini hanya bagian dari yang ‘sedikit’ itu.
    2. Jasad; atau tubuh kasar adalah ‘materi’ yang bisa di indera. Semua yang tampak dilangit dan dibumi adalah jisim yang terhimpun dalam 4 anasir (Air, Api, Angin, Tanah) yang disebut “benda mati”.
    3. Akal dan Otak; adalah dua ‘materi’ yang berbeda, tetapi dalam tempat yang sama yaitu ‘kepala’. Allah melebihkan manusia dari makhluk yang lainnya adalah karena mempunyai ‘Akal’ bukan otak, karena otak dimiliki oleh setiap makhluk yang lain, malaikat, iblis, hewan semua mempunyai otak bukan ‘akal’. (mengenai kemampuan otak yang ada pada malaikat, iblis, dan hewan akan kita bicarakan pada tempat yang lain).
    4. Hati; pun mempunyai makna ganda, hati secara jasmani sudah dapat diteliti oleh ilmu kedokteran, yaitu gumpalan darah atau tempat berkumpulnya darah, tetapi hati juga bersifat ‘ghaib’ adalah tempat kumpulan dari olah ‘rasa’.
    5. Hawa Nafsu adalah emosi yang tempatnya pada aliran darah, orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya, pada ilmu kedokteran sering disebut ‘tekanan darah tinggi’, tapi hawa nafsu adalah juga dari factor ‘psikologi’ yang berarti ‘emosi jiwa’, maka dalam ilmu ‘psikologi’ orang yang ‘sakit jiwa’ bukan hanya yang ‘hilang ingatan’ tetapi juga ‘psikologi error’ atau ‘gangguan jiwa’ seperti ‘caci maki’ dan depresi.
    http://masjid.phpbb24.com/viewtopic.php?t=270

  6. 7 Pak Din Ogos 6, 2008 at 10:59 am

    Ayat lain yang mengisyaratkan adanya ruh pada manusia adalah ayat berikut ini:

    Dan apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ruh-Ku ke dalamnya maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.[2] Dua poin penting yang ada dalam dua ayat di atas adalah Allah mengatakan, “Aku meniupkan ruh-Ku”, apa maksud dari kalimat tersebut? Apakah maksudnya adalah Allah meniupkan sebagian ruh-Nya kepada manusia. Yakni sebagian ruh-Nya masuk ke dalam tubuh manusia atau ada maksud yang lain lagi?

    Jelas Allah bukan ruh sehingga harus memasukkan sebagian ruh-Nya ke dalam tubuh manusia, akan tetapi yang dimaksud oleh al-Quran dengan penjelasan ini adalah kemuliaan dan ketinggian ruh itu sendiri. Yakni ruh begitu bernilai sehingga Allah menghubungkannya dengan diri-Nya dan mengatakan, “Aku meniupkan kepadanya ruh-Ku”. Bisa kita jelaskan dengan contoh lain seperti masjid adalah rumah Allah. Kita tahu bahwa masjid bukan rumah Allah, karena Dia bukan materi sehingga harus membutuhkan tempat tinggal, akan tetapi maksudnya adalah nilai dan pentingnya masjid sehingga disebut dengan rumah Allah. Contoh lain seperti majelis rakyat juga disebut sebagai rumah rakyat

    Dari http://islamalternatif.net/iph/content/view/147/36/

  7. 8 Ana Ogos 6, 2008 at 11:52 pm

    Qalbi di dalam Al Quran diistilah sebagai diri atau hati. Qalbi sebenarnya mengetahui apa yang patut dibuat dan apa yang patut dilaksanakan mengikut nilai-nilai diri itu sendiri. Firman Allah SWT maksudnya: “Sesungguhnya berbahagialah sesiapa yang membersihkan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (As Sham, 9 – 10) Jadi untuk merealisasikan pengertian bahawa siapa yang mengenal dirinya akan mengenali Tuhan-nya itu, iaitu dengan cara memahami hakikat roh, jiwa atau qalbi yang sebenarnya. Sesungguhnya untuk mencapai ke tahap yang tinggi memerlukan pengetahuan dan keyakinan yang kukuh terhadap Allah

    Dari http://www.j-qaf.net/modules/newbb/print.php?form=2&forum=13&topic_id=1018&post_id=7335

  8. 9 Sha September 8, 2008 at 2:02 am

    Dari segi otak, sebagian hewan juga memiliki kemampuan yang sama dalam analisa fakta dan resolusi tindakan. Tidak semua hewan itu “tidak cerdas”. Diantara mereka ada yang memiliki kemampuan untuk mengola fakta menjadi sebuah tindakan, tidak semata mata langsung bergerak karena naluriah (nafsu) semata. Mereka bergerak dengan menganalisa resiko. Hanya memang manusia karena “otaknya telah sempurna”, maka manusia lebih bisa menganalisa fakta agar bisa bertindak dengan cermat, memperhitungkan resiko dan lain sebagainya secara lebih mendalam.

    Kelebihan manusia lainnya adalah bahwa manusia bisa “membentuk peradaban”. Melakukan re-enginering terhadap setiap hal yang telah ditemukan sehingga peradabannya selalu bergerak maju. Hewan tidak begitu, dari jaman nabi adam sampai sekarang ya gitu gitu saja .. membentuk komunitas static namun tidak membentuk budaya atau apalagi peradaban. Inilah perbedaan nyata antara manusia dan hewan akibat “kesempurnaan” otak manusia.

    Jadi kesimpulannya : Manusia bukan Hewan. Atau Manusia juga bukan hewan berfikir, karena anjing pun bisa berfikir. Sebagai buktinya, sekarang-pun disediakan test IQ untuk anjing dan juga test IQ untuk kucing. Ini semua menunjukkan bahwa hewanpun bisa berfikir, sehingga absurdlah pandangan bahwa manusia itu adalah hewan berfikir.

    Dari http://dnuxminds.wordpress.com/2007/04/16/manusia-itu-bukan-hewan/

  9. 10 Ir H Mudiyoto Jun 3, 2009 at 6:31 pm

    AssalamualaikumWr Wb,

    Ruh ibarat listriknya , Roh ibarat jenis komputer sedang kan jiwa program komputer , raga hard ware nya,
    Jadi yang dimanta pertanggung jawaban adalah jiwa atau programnya

    sebab dalamalquran
    Ruh berdiri bershaft shaft dengan malaikat diadiam kecuali yang dikehendaki Allah
    Roh tidak mati biladikehendaki Allah dia dapat berkarya di dunia
    Jiwa dibentuk dicipta Allah dan ditanya engkau bertuhan siapa jawabnya Allah dan dimsukkan ke Badan
    Jiwa dibentuk oleh raga dan dihidupi oleh tuntunan ruh dandidampingi roh

    Wassalam
    Mudiyoto

  10. 11 Pak Din Jun 4, 2009 at 9:33 am

    Salam kembali

    1. Menarik sekali pandangan dari kaca mata Pak Mudi. Terima kasih kerana menyingah dan memberikan pandangan. Semuga dengan bebincang dan bertukar pendapat, kita akan dapat memahami lebih mendalam sesuatu isu yang dikemukakan. Terkadang apa yang dibincangkan itu sama, tetapi apabila dilihat dari pelbagai sudut, kelihatan berbeza dari pembagai sudut. Tidak hiranlah dari satu Kitab Al Quran, lahir 4 mazhab feqh yang utama dengan pelbagai jenis terjemahan aqidah. Mari kita lastarikan perbezaan itu dengan mengingatkan bahawa perbezaan yang diterima adalah ramat dari Pencipta.

    2. Dari ayat “Kullu nafsun za ikatul maut”. setiap yang berjiwa akan mengharapai mata, kita faham, bahawa jiwa ibarat pengatara di antara roh dan jasad. Ibarat gam yang melekatkan keduanya, dan apabila tiba Qadarnya, tamatlah fungsi gam dan berpisahlah roh dari jasad. Maka kematian itu tidaklah lain melainkan perpisahan roh dan jasad. Jasad yang tadinya hidup bernyawa dan bergerak, selepas ia teropisah dengan roh, menjadi kaku dan beku tidak boleh melakukan apa-apa. Malah tidak lama untuk ia reput, kembali menjadi asalnya, dari asas-asas tanah.

    3. Mengenali bahawa kita adalah roh, yang diberikan kenderaan jasad di Dunia untuk menjalani liku-liku ujian kehidupan, sangatlah beruntung, di sini dan Sana, kerana mengalam hakikat kewujudan kita. Roh sangat rapat dengan Penciptanya, dan sangat kenal denganNya. “Roh berdiri bersaf-saf dengan malaikah …” dan hanya hilang pertimbangan apabila dikaburi pandangannya oleh kenderaan jasad, yang berhawa nafsu. Dengan diselaputi pengaruh jasad, roh menjadi kabur penglihatan kepada Penciptanya, melainkan usaha sentiasa dibuat membersihkan selaput pengaruh jasad.

    4. Benar kata Pak Mudi, Roh tak pernah mati, menjadikan sesiapa yang daham bahawa mereka ada roh, tidak akan mengalami mati, yang berlaku hanay berpindahnya roh dari Alam Jasad ke Alam Barzah dan Ala-alam seterusnya. Hanay perbezaannya, sebelum dimasukkan ke jasad, roh sangat bersih, tetapi apabila keluar dari jasad, tidak ramai yang masih bersih, melainkan terselaput dengan kekotoran akibat terpengaruh dengan kehendak jasad. Maka Maha Pengasih dan Penyangnya Allah, Dia menyediakan Alam Pembersihan, sebelum melayakkan roh terus mendapat balasan nikmat syurga.

    5. Maka sebagai perantara jiwa kita semasa di Dunia boleh dipengaruhi oleh unsur kebaikan, roh (yang asalnya kenal dengan Allah) atau unsur kejahatan, jasad (yang peranagainya sukai pada Dunia). Kalahnya roh mengawal keadaan, akan menghasilkan jiwa resah geliash (nafsu ammarah bis suu’) sementara menangnya roh mengawal pengaruh jasad, jiwa akan menjadi tenang (mutmainnah dan sebagainay mengikut maqam). Bagi kita yang arif bi Llah, roh (kita) tidak akan sekali-kali membiarkan ia dipengaruhi oleh kejahatan jasad.

    6. Semuga Pak Mudi boleh menerangkan selanjutnya tentang pengalaman menjalani kehidupan di Dunia. Di awal-awal Blog ini, telah banya saya kemukakan perbincangan tentang siapa kita dan bahaimana kita sepatutnya menajlani kehidupan yang sangat berharga ini. Bagaimana kita sepatutnya mengam Islam sebagai cara hidup. Dan bagaimana Islam yang haq, perlu diterp didalam jiwa. Terlalu ramai Muslim sekarang ini yang terpengruh dengan kehebatan jasad sehingga mereka mengatakan mereka adalah jasad, yang sentiasa mengutama kehidupan Dunia. Ketahuilah kehidupan Akhirat itu adalah lebih baik, dan kehidupan di Dunia memerlukan yang terbaik.

  11. 12 sulaiman Jun 21, 2009 at 11:37 am

    terlalu banyak bahasan tentang roh, jiwa dan jasad. bermeacam-macam istolah/terms sehingga mengalirukan. kebanyakan bahasan dipetik dari pelbagai sumber penulisan. semua bahasan bersifat akademik sehingga yang menulisnya pun sebetulnya maish dalam kekeliruan.

    • 13 Pak Din Jun 22, 2009 at 2:42 am

      Setuju “bahasan dipetik dari pelbagai sumber penulisan”. Yang mempunyai alamat dibawah artikel semuanya adalah petikan.

  12. 14 sulaiman Jun 21, 2009 at 11:39 am

    terlalu banyak bahasan tentang roh, jiwa dan jasad. bermacam-macam istolah/terms dikemukan sehingga mengalirukan. kebanyakan bahasan dipetik dari pelbagai sumber penulisan. semua bahasan bersifat akademik sehingga yang menulisnya pun sebetulnya masih dalam kekeliruan.

  13. 15 Pak Din Jun 22, 2009 at 2:11 am

    Keliru soalan senang.

    1. Terima ksaih kerena mengunjung, membaca dan memberikan komen. Kepelbagaian istilah adalah kerena kepelbagaian kerenah yang ditunjukkan oleh manusia memahami hanya satu pekara mudah, iaitu Allah itu Esa dan hanya Dia yang berkuasa. Sekiranya kita memahami isu ketahuidan Allah secara dasar, kepelbagaian nama dan istilah tidak akan mendatangkan masaalah. Kita boleh melihat satu benda yang sama, tetapi dari sudut pandangan berbeza, maka ianya nampak berbeza. Kepelbagaian pandangan dari sudut berbeza ini yang memberikan nama dan istilah berbeza pada sesuatu nama benda, tetapi tidak pada hakikat.

    2. Kita pernah dengar cerita tentang 7 orang buta (sejak lahir) yang tidak pernah mengetahui apa itu gajah. Bila ditanya, selepas setiap orang itu memegang bahagian gajah yang berbeza, maka jawapannya berbeza. Gajah itu menjadi seperti sebatang pokok, pada yang memegang kakinya, menjadi tembuk besar pada yang memegang badannya dan pelbagai andaian yang berbeza dari 7 orang tadi, pada seeokor gajah yang sama. Kesemuanya pandangan itu apabila dicampurkan sekali, barulah memberikan jawapan yang lebih tepat, berbanding hanya satu jawapan.

    3. Dalam mengkaji roh, jiwa dan jasad ianya juga sama. Saya kurang faham dengan kekeliruan yang dimaksudkan oleh Sdr, kerana hanya 3 perkataan berbeza yang Sdr kemukakan iaitu roh, jiwa dan jasad. Ketiga-tiga kata nama itu itu adalah menerangkan bahagian yang berbeza untuk seseorang insan atau manusia. Kita adalah roh, yang diberikan jasad, untuk menjalani ujian kehidupan di atas Dunia ini, bagi menentukan kedudukan kita (roh) di Akhirat kelak. Jiwa adalah bahagian yang menjadi perantara di antara kedua bahagian roh dan jasad.

    4. Apabila terpisahnya roh dan jasad, ibarat hilangnya kuasa gam yang melekatkan dua bahagian, maka roh kita sekali lagi terpisah dengan jasad. Proses perpisahan itu dinamakan kematian. Apa yang berlaku sebenarnya ialah hanaya perpisahan roh dari jasad. Roh terus tetap hidup, sementara jasad yang ditinggalkan roh tidak boleh hidup lagi. Jasad menjadi reput dan dikitar semula oleh Allah untuk digunakan oleh mahluk lain. Roh pula yang asalnya sendiri, sebelum ditiupkan ke dalam jasad, kemudian akan menjadi sendiri kembali selepas kematian.

    5. Di hari kebangkitan kemudian, roh akan diberikan jasad baru untuk membolehkannya dihimpunkan di Padang Mahsyar dan menjalani proses penghakiman. Roh yang tadinya berjasad semsa di Dunia, kemudian menjadi tersendiri di Alam Barzah (selepas kematian), kini diberikan sekali lagi kenderaan (jasad) apabila berada di Alam Penghakimaan. Bagaimana bentuk jasad yang akan diberikan buat kelai kedua itu, samaada ianya serupa dengan jasad di Dunia, itu adalah sesuatu yang kita tidak dapat pastikan. Yang penting adanya sejenis kenderaan jasad.

    6. Sekiranya Sdr dapat menjuruskan persoalan kepada sesuatu yang lebih tepat, setelah Sdr faham kehadiran roh, jiwa dan jasad, maka tidaklah adil mengatakan saya yang berada di dalam kekeliruan. Ibarat keluar dari kelas yang mengajar mathematik yang sukar untuk kita fahami, kita mengatakan guru yang mengajar tidak paham apa yang diajar, sedangkan yang tidak faham adalah kita yang belajar. Mudah sememangnya untuk kita mengatakan orang tidak faham, walaupun kita sendiri yang sebenarnya menghadapi kekeliruan fakta itu.

    Jangan lupa untuk senyum walaupun keliru.


Tinggalkan jawapan




 

Ogos 2007
I S R K J S A
    Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Blog Stats

  • 43,659 hits

Salam semua

Komen yang menggunakan nama saya Sharudin, Shar atau Pak Din, yang diakhiri dengan alamat web, selalunya adalah petikan dari alamat tersebut. Ia sebagai pautan dan tidak berkaitan dengan setuju atau tidak saya kepadanya. Semua pendapat adalah bagi tujuan kefahaman dan pendidikan.