Bhg 2: Modal Insan – Hardware, Firmware and Software

1. Ribuan maaf bahasa saya memang rojak. Bukan kesan dari pembelajaran di UK. Memang dari bangku sekolah dulu bahagian bahasa lemah sedikit. Mungkin kerana di dalam pembacaan saya mengutamakan speed reading, reading between lines dan membayangkan yang tersirat dari yang tersurat. Jadi bila menulispun jadi rojak. Saya harap apa yang tersirat dapat disampaikan melalui yang tersurat. Lagipun tajuk-tajuk yang saya tulis terbuka kepada feedback dan comments.

2. Dengan B.Sc Electonics Communications, saya memahami sistem komputer. Kebetulan memang saya gemar menggunakan komputer. Ingat masa tahun 1 lagi, tak cukup dengan slot menggunakan komputer yang di’ration’kan kepada para pelajar, saya meminta slot-slot senior yang kurang minat berkomputer. Ini cerita tahun 78. Bill Gates pun baru berhenti sekolah. Yang penting dari komputer dan electronics lahir hardware (HW), firmware (FW) dan software (SW).

3. Dengan tema “dah jemu sistem elektronik, nak kaji sistem diri” (Bhg 1 – Modal Insan, Per 6”, saya kemudiannya mengenali Roh (SW), Jiwa (FW) dan Jasad (HW), setelah beberapa tahun pendedahan kepada falsafah (Bhg 2, Teori Darwin, Per 12). Kita adalah roh yang diberikan jasad sebagai kenderaan di dunia dengan jiwa sebagai perantara. Setiap yang berjiwa akan mati (berpindah roh ke alam lain – 7 alam semuanya, satu lagi topik akan datang). Maka kita yang mengenali kita sebagai roh, kita tak akan mati! Kholidi nafi ha, abada (Kekal kita di dalamnya, selamanya … pilihlah).

Peta

4. Jadi modal mesin (ware) ialah HW, FW, SW. (ingat zaman Tuppre – ware dulu). Menterjemah elektronik kepada insan, maka Hard Insan – Jasad, Firm Insan – Jiwa dan Soft Insan – Roh. Begitu juga ilmu berkaitannya Hard Science (Physics, Chemistry dan Biology), FS (jarang dengar lagi) dan SS (Soft Science adalah ‘kolokial’ bagi sesetengah pendapat). SS merujuk segala yang berhubung dengan bagaimana (how), mengapa (why) (software – tak boleh sentuh) berbanding apa (what), bila (when), mana (where) (boleh sentuh).

5. Al-kisah, vitamins dan minerals adalah makanan jasad, jadi nak bagi apa pada roh? (Bhg 2 Teori Darwin Per 6) Fikir dan zikr adalah makanan roh (termasuk minda/akal). Jadi menghalang pemikiran atau penzikiran yang salah membantutkan petumbuhan roh/mind/akal. Roh yang akan merantau 7 alam ini akan sentiasa memerlukan makanan selagi dia/kita hidup. Kalau tak dilatih mencari makan semasa memandu jasad (di dunia) di alam seterusnya nanti dia tak pandai nak cari makan. Kebulurlah dia!. Inilah modal insan …

6. Dari awal siri, penekanan saya adalah kepada ilmu sains (falsafah semulajadi sebelum kurun ke 19). Fikir dan zikir secara saintifik (ilmiah) adalah makanan utama roh/minda/akal (sinonim tapi …). Zikir ni bukan yang berkenaan dengan biji tasbih, tu … atau dalam keadaan separa-sedar (subconsious). Fikir dan zikir juga ada di dalam bentuk artistik (berseni). Umpama supercomputer yang digunakan untuk tujuan saintifik (finate element analysia, weather forecast prediction dsb) berbanding supercomputer untuk tujuan artistik (witch-craft game atau big blue vs Kasparov – grandmaster chess player). Saintifik fikir dan zikir adalah berkenaan carakerja Haliq (faelNya), sementara yang artistik berkaitan carakerja mahluk. Jangan lupa juga campuran keduanya, di tengah-tengah.

Peta

7. Jadi, masaalahnya ialah kita kata kita suka sains. Kita kata kita nak bena modal insan. Kita kata kita nak berfikir luar kotak. Kita kata kita nak berpandu kepada Al Quran, As Sunah dan Qiyas (paralleh thinking). Kita kata nak kenal manusia. Kita kata kita sebuk hambatan dunia … sehinggakan pembacaan Kitab Alam disubkontrak kepada orang lain. Tapi … pada masa yang sama kita tolak Teori Darwin (bukan pembaca Saifulislam … orang lain – macam pernah dengar ja!) kita tolak sains yang susah (sains yang menghasilkan keselesaan kita, tak apa), kita tolak Big Bang. Masha Allah! Uniknya muslim yang saya kenali … mungkin orang lain tak mempunyai pengalaman yang sama kot! Uniknya kesimpulan yang ustaz Hasrizal berikan. “Dah takdir!”, Qodo’ Qadar – QQ (satu lagi topik menarik akan datang).

8. Bagaimanapun, pokok duit-duit menghasilkan kehijauan di pokok yang ditumpang. Walaupun tak boleh hidup berdekari dengan tidak menjejeak bumi, dia tak seteruk enau, yang mempunyai hobi memanjat lebih tinggi dari yang ditumpangnya. Tapi ada satu pokok yang mulanya menumpang, akhirnya menyebabkan pokok tumpangannya mati beragan. Itulah alam. Yang mengikut program Haliknya. Itu pula Hard Alam, yang membentuk segala matter (dan membawa kepada istilah materialistik), Firm Alam menjadi perantara, dengan Soft Alam adalah QQ (superprogram Allah), yang merangkumi sifat-sifat maani dari ilmu Kalam (Kudrah, Iradah, Ilmu, Hayat, Sama’, Basar dan Kalam).

9. QQ adalah alat. Sebab musabab. “Allah melaksanakan segalanya dengan sebab”. Alat yang sepatutnya kita pilih untuk melaksanakan sesuatu. Ketidaktahuan kita memilih alat, yang menghasilkan keputusan, lain dari apa yang kita harapkan. Kita sangka kita telah memilih alat yang terbaik. Sepatutnya kita bukan melihat kepada alat sangkaan yang dipilih … tetapi lihatlah kepada hasil kepada alat sangkaan itu. Sekiranya tujuan tidak tercapai dengan alat sangkaan itu … logiknya kita memilih alat yang kita tak sangka berkesan. Pemilihan yang hanya dimungkinkan oleh fikir dan zikir saintifik. Berfalsafah, sesuai teori isi dan kulit.

10. 31:5 Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari tuhanNya dan mereka orang-orang yang beruntung. Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olok. Mereka itu memperolehi azab yang menghinakan.

Allahu ‘alam

4 Responses to Bhg 2: Modal Insan – Hardware, Firmware and Software

  1. sharudin berkata:

    saya bandingkan roh dan jasad umpama sim card dan handset memang tepat
    http://disertasi.blogspot.com/2007/05/roh-dan-jasad-umpama-sim-card-dan.html

  2. sharudin berkata:

    Qalbi di dalam Al Quran diistilah sebagai diri atau hati. Qalbi sebenarnya mengetahui apa yang patut dibuat dan apa yang patut dilaksanakan mengikut nilai-nilai diri itu sendiri. Firman Allah SWT maksudnya: “Sesungguhnya berbahagialah sesiapa yang membersihkan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (As Sham, 9 – 10)
    http://www.j-qaf.net/modules/newbb/print.php?form=2&forum=13&topic_id=1018&post_id=7335

  3. sharudin berkata:

    Jasad, Jiwa (nafs) dan Ruh

    Dalam Al Ihya Ulumuddin Bab Ajaibul Qulub, Imam Al Ghazaly mengatakan, “bahkan ulama -ulama yang masyhur sekarang ini (zaman Imam Al Ghazaly : red) banyak yang tidak mengerti hal ini”. Itu pada zaman Imam Al Ghazaly. Berapa ratus tahun yang lalu. Apatah lagi sekarang? Kebanyakan orang rancu pengertiannya antara Jiwa dengan Ruh. Padahal jelas-jelas dalam Al Qur’an, Allah membedakan penggunaan kata Ar-Ruh (Ruh) dengan An-Nafs (Jiwa).

    Secara umum beliau menjelaskan bahwa Ruh dalam AlQuran maknanya adalah “Nyawa” (sirruh hayah) dan juga Jibril. Sedangkan perasaan2 ketidak tenangan, kegundahan, keresahan dll itu menurut AlQuran adalah pengaruh dari NAFS (jiwa) bukan dari ruh. Nafsu sendiri tingkatannya ada 3 yaitu nafsu muthmainnah, nafsu amarah dan nafsu lawwamah

    Nafsu muthmainnah adalah nafsu/jiwa yang tenang karena yakin mendapatkan ridho Allah, yaitu nafsu yang berada pada kondisi mengikuti Islam baik secara ma’rifat (aqidah), amalan dzohir (sholat, dagang, dll) dan amalan bathin (tawadhu, ikhlas, dll). Manusia harus selalu pada kondisi perbuatan fisik yang baik dan perbuatan batin yang baik agar bisa mendapatkan ketenangan. Dan tidak lain makna baik adalah semua yang baik menurut Allah , yaitu sesuatu yang wajib, mandub dan mubah dilakukan, bukan yang makruh atau yang haram. Barang yang dipergunakan pun harus barang yang halal, bukan barang yang haram. Buruk adalah semua yang buruk menurut Allah
    http://dnuxminds.wordpress.com/2007/07/10/kesalahan-memahami-ruh-faktor-penyebab-sekulerisme-juga/

  4. Pak Din berkata:

    Tentang Adz Dzaariyaat : 56………
    Saya setuju dengan tulisan “Mengapa Manusia Hidup” di atas. Namun, tentang ayat 56 surat Adz Dzaariyaat tersebut saya pernah mendapatkan penjelasan yang cukup menarik dilihat dari segi tafsir khususnya Ilmu Bahasa Arab. Jika kita baca redaksi aslinya di Al Qur’an kita akan menemukan kata “Liya’buduun” dalam ayat tersebut. Biasanya dalam Bahasa Indonesia sering diartikan dengan “untuk menyembah (beribadah) kepadaKu”. Yang menjadi sorotan dalam hal ini adalah huruf lam-nya. Dalam bahasa arab huruf lam tersebut bisa berarti lam lil ghordi “supaya” atau “untuk” dan lam lil ‘aqibat “akibat”. Ulama ahli Tauhid menafsirkan ayat tersebut bahwasanya kegiatan ibadah yang ditaklifkan kepada manusia adalah “akibat” dari penciptaan Allah terhadap manusia. Berarti lam yang digunakan adalah lam lil ‘aqibat bukan lam lil ghordi. Jika pehamaman ayat tersebut dengan menggunakan lam lil ghordi, maka seolah-olah Allah mempunyai tujuan “ghorod” ketika menciptakan manusia dan jin yang tidak lain tujuan itu adalah “untuk menyembah (beribadah) kepadaKu”. Tentunya pehamaman itu bertentangan dengan ilmu tauhid yang menyatakan bahwa segala Af’al (perbuatan-perbuatan) Allah tidak memiliki “ghorod” atau tujuan. Jika Af’al Allah ada “ghorod”-nya tentunya Allah membutuhkan kepada sesuatu hal. Jika Allah membutuhkan sesuatu hal, maka Allah itu lemah dan itu tidak mungkin. Analoginya adalah ketika kita membuat meja “untuk” menulis. Maka kita mempunyai tujuan atau “ghorod” terhadap sesuatu hal (menulis) yang kita butuhkan.

    Dari http://kawansejati.ee.itb.ac.id/mengapa-manusia-hidup

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.