S33 Selamat Berpuasa.

Ogos 31, 2008

S32 PERMATA sampai ke 555.

Ogos 31, 2008

Alhamdullilah kelas PERMATA999 telah sampai ke siri 555 dengan mengakhiri juzuk ke 20 atau 2/3 dari Al Quran. Surah Al Ankabot ayat ke 30-45.

30. Nabi Lut berdoa dengan berkata: Wahai Tuhanku, tolonglah daku terhadap kaum yang melakukan kerosakan (menderhaka).
31. Dan ketika datang (malaikat) utusan kami kepada Nabi Ibrahim dengan membawa berita yang menggembirakan), mereka berkata: Sebenarnya kami hendak membinasakan penduduk bandar ini), sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim.
32. Nabi Ibrahim berkata: Sebenarnya Lut ada di bandar itu. Mereka menjawab: Kami mengetahui akan orang-orang yang tinggal di situ. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan dia dan keluarganya (serta pengikut-pengikutnya) kecuali isterinya, dia adalah dari orang-orang yang dibinasakan.
33. Dan ketika datang utusan-utusan Kami kepada Nabi Lut, dia merasa dukacita dengan kedatangan mereka dan merasa tidak terdaya untuk mengawal mereka (dari gangguan kaumnya) dan (setelah melihatkan halnya yang demikian), utusan-utusan itu berkata: Janganlah engkau takut dan janganlah berdukacita, sesungguhnya kami akan menyelamatkanmu dan keluargamu (serta pengikut-pengikutmu) kecuali isterimu, dia adalah dari orang-orang yang dibinasakan.
34. Sesungguhnya kami (diutuskan) untuk menurunkan atas penduduk bandar ini azab dari langit, disebabkan mereka melakukan kejahatan (kufur dan maksiat).
35. Dan demi sesungguhnya, Kami telah (binasakan bandar itu dan telah) tinggalkan bekas-bekasnya sebagai satu tanda (yang mendatangkan iktibar) bagi orang-orang yang mahu memahaminya.
36. Dan (Kami utuskan) kepada penduduk Madyan saudara mereka: Nabi Syuaib; lalu dia berkata: Wahai kaumku, sembahlah kamu akan Allah dan kerjakanlah amal soleh dengan mengharapkan pahala akhirat dan janganlah kamu melakukan kerosakan di bumi.
37. Maka mereka mendustakannya, lalu mereka dibinasakan oleh gempa bumi, serta menjadilah mereka mayat-mayat yang tersungkur di tempat tinggal masing-masing.
38. Dan (ingatkanlah peristiwa kebinasaan) Aad (kaum Nabi Hud) dan Thamud (kaum Nabi Soleh) dan telahpun ternyata kepada kamu sebahagian dari bekas-bekas tempat kediaman mereka dan (kebinasaan mereka yang demikian ialah disebabkan) Syaitan memperelokkan pada pandangan mereka: Amal-amal mereka (yang jahat itu), lalu dia menghalangi mereka dari jalan Allah; padahal mereka orang-orang yang bijak pandai dan berakal (yang dapat membezakan yang benar dan yang salah).
39. Dan (ingatkanlah juga peristiwa kebinasaan) Qarun dan Firaun serta Haman. Dan demi sesungguhnya Nabi Musa telah datang kepada mereka membawa keterangan-keterangan (mukjizat) yang jelas nyata, lalu mereka berlaku sombong takbur di bumi (mendustakannya), padahal mereka tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah).
40. Maka masing-masing Kami binasakan dengan sebab dosanya, iaitu di antaranya ada yang Kami hantarkan angin ribut menghujaninya dengan batu dan ada yang dibinasakan dengan letusan suara yang menggempakan bumi dan ada yang Kami timbuskan dia di bumi dan ada pula yang Kami tenggelamkan di laut dan (ingatlah) Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri.
41. Misal bandingan orang-orang yang menjadikan benda-benda yang lain dari Allah sebagai pelindung-pelindung (yang diharapkan pertolongannya) adalah seperti labah-labah yang membuat sarang (untuk menjadi tempat perlindungannya); padahal sesungguhnya sarang-sarang yang paling reput ialah sarang labah-labah, kalaulah mereka orang-orang yang berpengetahuan.
42. Sesungguhnya Allah mengetahui (kepalsuan) apa jua yang mereka sembah yang lain daripadaNya dan Allah jualah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.
43. Dan misal-misal perbandingan yang demikian itu Kami kemukakan kepada umat manusia, dan hanya orang-orang yang berilmu yang dapat memahaminya.
44. Allah mencipta langit dan bumi dengan cara yang layak dan berhikmat; sesungguhnya yang demikian itu mengandungi satu tanda (yang membuktikan kebijaksanaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.
45. Bacalah serta ikutlah (wahai Muhammad) akan apa yang diwahyukan kepadamu dari Al-Quran dan dirikanlah sembahyang (dengan tekun); sesungguhnya sembahyang itu mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar dan sesungguhnya mengingati Allah adalah lebih besar (faedahnya dan kesannya) dan (ingatlah) Allah mengetahui akan apa yang kamu kerjakan.


R88 Dari TheBigView.com

Ogos 30, 2008

1. Re: Question about light

Quote:
Originally Posted by schrodinger
The hope is that this will give us a better understanding of the nature of matter and mass and eventually lead to a grand unification of the four elementary forces.

Yes it refresh my memory. TQ.

“The photon falls into the class of particles called bosons, which are believed to transmit the forces of nature. The photon is the fundamental particle which makes up light, which is one of the four fundamental forces in nature.” and “When an electron in an outer orbit is caused to make a quantum leap to a lower orbit, it must give up some energy.”

The mover that cause electron to jump up/down is heat. Interesting essence? Heat cause electon to jump, which then cause emf to exist. Heat is also involved in the Big Bang and interesting enough, Thermodynamics Laws are well established. The first being energy-matter is never created nor destroyed. It seems that at singularity, the infinite heat, cause the whole event to happen … till now.

Light is never pure in the sense that it come with heat? It look as if heat is representing the ‘code’ of the intentions or the ‘how-to’ in the running of the Universe. The 2nd Thermo Law, entropy set in. The achievement of ‘good’ cause the ‘bad’ byproduct. Again heat come in.

The the 3rd Thermo says that no heat no life! Interesting yea ….

2. Re: Question about light

Thanks a lot for the views given. I appreciate it a lot.

“It is pure energy and has no intrinsic rest mass”. Pure as in energy before it splits to the four fundamental energys?.

Right … No mass, there should be no limit to speed. But it has momentum means that there’s speed involed?

Energy is everything to create the Universe. It forms matters, emf and heat. 3 mains category that I always remember to make things (science) easy, at least for me. It seem photon is a carrier of emf, graviton the carrier of gravitional forces, how about the other two forces … their carriers? And where do we fit, heat. It’s an energy and seem to be carried by photon? from Sun to Earth? Views please. TQ.

“cannot be split into smaller particles”. Ithought we spent billion to study on superstring, that make up everything, inc quarks or lepton.

3. Re: Time

Quote:
Originally Posted by schrodinger;86333As you can see, this clearly shows that the same relationship that exists between energy and mass also exists between distance (space) and time. In the same way that mass is converted to energy, space is converted to time. Indeed, space is potential time and mass is potential energy. Alternaively, energy is kinetic mass, and [B
time is kinetic space[/b]. If you consider energy to be “real” then you must also consider time to be real. In fact, these four entities: mass, energy, space and time are the four primary dimensions which comprise our Universe and each one of them is as real as any other one.[/font]

Wow “time is kinetic space”. The only problem is kinetic mass is reversable but kinetic time is not.

“mass, energy, space and time are the four primary dimensions”. To me, its a question of WHO, WHERE, WHAT and WHEN. Don’t forget WHY. Essence is Who, existing on Where and affected by What, on the moment of When. The problem is Why? as such …

” I think after space-time dimension, we should add ‘mind’ dimension (thus creating the idea of ‘mind universe’), which is to cater for the meme as complement to gene.” – from http://www.thebigview.com/forum/show…06&postcount=2

4. Re: The Meaning…
Quote:
Originally Posted by Vlatko
Man thinks that he is the center of everything, and somehow, subconsciously he thinks that he is really changing something, but in the process of contemplation the ego is cornered and mind receives glimpses of notion being insignificant. Mind can’t imagine being insignificant, that is impossible, thus the sadness and emptiness overtakes.

I’m thinking, what is the point if I do or if I don’t do something with my life? Evolution will not notice that, species will not notice that, the universe will not notice that. They are not affected weather I’m driving a nice car, weather I have a big house, weather I’m knowledgeable, weather I’m religious, weather I’m black, white, short, tall, man or a woman. Nothing is relevant compared to the big picture.

Compared to the big picture the meaning of all religions, philosophies, wars, politics etc. is becoming meaningless, purposeless.

Than the question arises: What will happen if everybody thinks this way, and drops every activity? What if all mankind suddenly falls into meditation? All activities will stop, all nonsense will stop. Everybody will seat and fall in deep relaxation. Than what?

Cheers, Vlatko

“the center of everything”, means to me ata least, as human is at the apex of Universe, creation or evolution (depending on which observation angle). The tool that differs us from the rest is our ‘sufficient level’ of mind, which in turns prodeces conciousness. I think after space-time dimension, we should add ‘mind’ dimension (thus creating the idea of ‘mind universe’), which is to cater for the meme as complement to gene.

“Compared to the big picture the meaning of all religions, philosophies, wars, politics etc. is becoming meaningless, purposeless.” I dont quite agree with this, but as we evolve, those meme (the belief things) should be blended with the reasons of believing. The law of physics is a subset to the laws of nature. Thus until we can categorise our knowledge of laws of physics as 100% of the laws of nature, then we are still in the believing stage. So we continue to evolve.

“Than what?”. So as long as we are not at either ends (not knowing anything so as we have to belief or we have known everything, so we don’t have to find proof), we as human will never be the same or lead to be doing the same things. Life is about experiencing color. The million of color available as we are all have a high degree of freewill.

5. Re: Top Ten Scientific Facts : Evolution is False and Impossible

Quote:
Originally Posted by schrodinger
Lightwave communication is adequate for our “local” area but for deep space it just isn’t up to the task. Hopefully, science will provide us with an entirely new technology which will allow for instantaneous communication over any distance. This would seem to contradict the known laws of physics and violate relativity and the speed of light, but science is constantly evolving and we certainly do not know everything! Quantum electrodynamics, and in particular quantum entanglement may be our best hope for overcoming the cosmic censoring which the speed of light imposes on us at the moment. If we can couple quantum entanglement with artificial intelligence, to make sense out of otherwise random interactions, we just might achieve what physics says is impossible while still operating within the laws of physics. The final chapter is one that will never be written as lon as there is a tomorrow.

Agree to the need of assuming “instantaneous communication” not only over any distance but the entire Universe (its the same meaning but different words, ). Communication is required when there’s need of information flow. What about if the knowlege is already there. The know-how is complete to cater from the beginning to the end. Laws of physics is a subset to the law of nature. As long as there is tomorrow, there is life. Not only for us to gather new laws but for the Universe to complete the existance.

Evolution cannot be false as its about changes. The only constant in life is changes. Without that constant there’s no life. The question is only the direction of evolution, for the better or for the worse? “Quantum entanglement” is about transforming pure energy to energies usable to conduct life. To enable and fuel life. That’s evolution. As in the big view. Do we get confused about the ways evolution work and the ‘existance or not of super being’ enabling it?

6. Re: transformation

Quote:
Originally Posted by j000han
Basically time is a movement over a possible path for the transformation cycle of matter>energy>space>energy>matter.>energy >space>matter.

The ‘amount’ of space that was transformed into energy>matter is relative to the path that the object(s) has/have followed.
Iow. the amount of space that is transformed into matter = the amount of matter that is transformed into space.
But surely the question then arises how can space be measured?

Thus the notion that consciousness originates from a material structure may well be incomplete if not entirely inaccurate.

Wow … really deep thought needed to produce those imaginations.

I observed the arguments as “do space & consciousness require energy to exist?”

Yes, as energy is define as the ability to do work. The ability to realize space & consciousness do require energy. The transformation of pure energy to the 2 entities is what I am confused to. Simplifying life, I assume that any entity E, requires A, B, C and D to make it happened, thus E = A + B + C + D.

A = The Tools and Equipments.
B = The building block or the material.
C = The procedures and methods (knowledge)
D= The Energy or amount of work done.

Views please … TQ

7. Re: Are the stars and planets in motion an energy plant?

Quote:
Originally Posted by schrodinger
[color=black]
.. There is a sum total of energy that remains constant regardless of any and all changes that might take place in the Universe.

My question is the fix amount an infine or infinite? It started as an infinitely dense singularity making the impression that there is nothingness, but a fix amount. If infinite means the space-time Universe can go on forever!

Thanks


R87 SI “Politik Tukang Karut!”

Ogos 30, 2008
28  Dari Saifulislam.Com, Terima Kasih Ustaz.

Pak Din     August 27th, 2008 at 2:52 pm

Salam menang

1. “ala kulli haal… segala puji bagi Allah atas keputusan pilihanraya di Permatang Pauh semalam. semoga kemenangan itu menyumbang kepada perkembangan prinsip yang dimaksudkan.” Kata Usytaz. Syabas dan tahniah saya ucapkan kepada pemenang dan juga rakyat Permatang Pauh secara keseluruhan dan semua rakyat Malaysia amnya, yang mendokong sistem demokrasi beraja kita. Sudah pasti pendirian prinsip perlu selaras dengan kehendak Islam, terutamanya memahami nilai-nilai Islam, dan bukan kehendak Muslim yang akhir-akhir ini ketinggalan dalam menilai dan menambah nilai, nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

2. Tertarik juga lontaran idea Mrs Ustaz, “nak ‘uji’ pandangan atau approach ustaz ie nk tau which side u r?”. Walaupun “which side u r?” melambangkan ada nada siapa lebih betul, namun penekanan kepada kepimpinan ala keluarga, akan memastikan kita terpaksa kembali, membuka buku nota bertajuk pertandingan yang berakhir dengan situasi “win-win”. Bukan mudah untuk mengapplikasi teori ini, tetapi kegirahan kita atau tepat lagi semangat jangka pendek kita, terkadang mempengaruhi tindakan menterjemah teori kepada pelaksanaan.

3. Kemenangan pembangkang adalah juga kemenangan penyokong. Saya sokong penuh ucapan TPM mengucapkan tahniah kepada pemenang dan mengingatkan amalan demokrasi masih sihat di negara kita. Bukan mudah untuk menyuarakan kedudukan sebegitu, kalau tidak kerana kuatnya nilai-nilai Islam tersemat di minda. Malangnya semangat ini belum turun ke akar umbi atau masyarakat bawahan, yang lebih gemar dengan tiupan semangat untuk membantu kehidupan seharian menyambut cabaran membuat keputusan. Sehinggalah kita dapat melihat, selepas pertandingan, kedua penyokong dan pembangkang masih dapat menyatukan prinsip asas walaupun perbezaan ketara di dalam isu, semasa pertandingan.

4. Anjakkan cara fikir sangat diperlukan di dalam politik di negara kita. Secara tradisinya (conservative) kepimpinan politik diasak kepada masyarakat dengan mengambil pehak kepada parti, tidak mengira prinsipnya jelas atau tidak. Anjakan yang diperlukan ialah ke arah liberalisasi, yang mengajar masyarakat kepada mengambil pehak kepada prinsip yang jelas. Tidak menjadi masaalah sekiranya pengurusan parti tidak menyelitkan sentiment kepartian semasa berkempen, tetapi malangnya itulah yang berlaku di negara ini, yang rata-rata tindakan diambil berdasarkan sentiment, semangat jangka pendek, kesilapan memilih nilai dan sebagainya.

5. Memang tidak mudah membuat perubahan kepada semangat jangka panjang. Semangat yang dibena dengan keilmuan berdasarkan kajian mendalam tentang sesuatu, berbanding semangat jangka pendek yang diterap hanya semasa berkempen yang selalunya dikaburi dengan janji kosong dan tidak jejak ke Bumi. Tanpa disedari latihan yang diperolehi semasa ghairah berkempen ini, terus menjadi amalan harian masyarakat, yang akhirnya tidak pandai merancang kehidupan dengan teliti. Kehidupan terus berdasarkan kepada pelbagai isu dan pengajaran yang tidak berbentuk pandangan jauh dan berwawasan.

6. Prinsip asas semestinya ke arah mengenali Pencipta. Islam mengutamakan Tauhid kepada Pencipta dengan mengenal sekenal-kenalnya Pencipta Alam ini. Tidak cukup dengan hanya menyebut nama dan sifat, tetapi perlu menghayati carakerjaNya dengan menterjemah pengetahuan mengenaiNya ke dalam kehidupan seharian. Betapa sempurnaNya penciptaan yang dilakukan maka itulah yang perlu dibudayakan dalam kehidupan. Betapa seniNya perancangan dan perlaksanaan carakerjaNya, maka itulah yang menjadi nilai-nilai yang diterbiahkan di dalam hasil cinptaanNya yang dinamakan Alam. Prinsip SunnahNya tidak pernah dan tidak akan berubah.

7. Semuga kemenangan pilihanraya kecil ini menjadi titik tolak ke arah meliberalisasikan pemikiran masyarakat, bukan sahaja dalam cara membuat pilihan pemimpin, malah yang lebih utama adalah ke arah keterbukaan menerima perubahan membuat pilihan berdasarkan prinsip asas dan bukan ketaasuban kepada seseorang atau parti seseorang. Politik kepartian ini menjadi lebih malang apabila nilai Muslim itu dianggap sebagai nilai Islam, sedangkan keadaan Muslim sekarang tidak melambangkan begitu. Tahniah sekali lagi kepada yang menang.


P554 28-08-08 29:26-35

Ogos 28, 2008

P553 P555

26.  Setelah itu Lut beriman kepadanya dan Nabi Ibrahim pun berkata: Aku hendak berhijrah kepada TuhanKu, sesungguhnya Dialah jua Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.
27.  Dan Kami kurniakan kepadanya: Ishak (anaknya) dan Yaakub (cucunya) dan Kami jadikan dalam kalangan keturunannya orang-orang yang berpangkat Nabi dan menerima Kitab-kitab agama dan Kami berikan balasannya yang baik di dunia dan sesungguhnya adalah ia, pada hari akhirat, dari orang-orang yang soleh.
28.  Dan (ingatkanlah peristiwa) Nabi Lut tatkala dia berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kamu melakukan perbuatan yang keji, yang tidak pernah dilakukan oleh seorangpun dari penduduk alam ini sebelum kamu.
29.  Patutkah kamu mendatangi orang lelaki (untuk memuaskan nafsu syahwat kamu)? Dan kamu memotong jalan lalu-lalang (untuk tujuan jahat kamu)? Dan kamu pula melakukan perbuatan yang mungkar di tempat-tempat perhimpunan kamu? Maka kaumnya tidak menjawab selain daripada berkata (secara mengejek-ejek): Datangkanlah kepada kami azab dari Allah (yang engkau janjikan itu) jika betul engkau dari orang-orang yang benar.
30.  Nabi Lut berdoa dengan berkata: Wahai Tuhanku, tolonglah daku terhadap kaum yang melakukan kerosakan (menderhaka).
31.  Dan ketika datang (malaikat) utusan kami kepada Nabi Ibrahim dengan membawa berita yang menggembirakan), mereka berkata: Sebenarnya kami hendak membinasakan penduduk bandar ini), sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim.
32.  Nabi Ibrahim berkata: Sebenarnya Lut ada di bandar itu. Mereka menjawab: Kami mengetahui akan orang-orang yang tinggal di situ. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan dia dan keluarganya (serta pengikut-pengikutnya) kecuali isterinya, dia adalah dari orang-orang yang dibinasakan.
33.  Dan ketika datang utusan-utusan Kami kepada Nabi Lut, dia merasa dukacita dengan kedatangan mereka dan merasa tidak terdaya untuk mengawal mereka (dari gangguan kaumnya) dan (setelah melihatkan halnya yang demikian), utusan-utusan itu berkata: Janganlah engkau takut dan janganlah berdukacita, sesungguhnya kami akan menyelamatkanmu dan keluargamu (serta pengikut-pengikutmu) kecuali isterimu, dia adalah dari orang-orang yang dibinasakan.
34.  Sesungguhnya kami (diutuskan) untuk menurunkan atas penduduk bandar ini azab dari langit, disebabkan mereka melakukan kejahatan (kufur dan maksiat).
35.  Dan demi sesungguhnya, Kami telah (binasakan bandar itu dan telah) tinggalkan bekas-bekasnya sebagai satu tanda (yang mendatangkan iktibar) bagi orang-orang yang mahu memahaminya.

R86 – Evolusi lagi #3

Ogos 27, 2008

Dari Blog Sdr Saifuddin

sharudin said…
Salam Pedagang Jamu

1. Falsafahnya begini, sebelum adanya orang yang mengiatkan kajian sain (saintis) Muslim tidak berminat untuk memasuki padang. Kalau ada yang bermainpun setakad main kampungan, dengan mode main-main., sehinggalah datang pengkaji yang serious, yang tidak kenal penat, terus membuktikan satu demi satu, apa yang dahulunya kepercayaan sahaja kini menjadi kepercayaan yang boleh dibuktikan. Muslim tidak berminat cara begitu. Kebanyakan Muslim terlalu reaktif, langsung tidak proaktif. Hanya membaca bahawa Al Quran telah mengatakan begitu begini 1400 tahun dahulu. Kenapa perlu kita tunggu sehingga sekarang atau sehingga saintis (yang menggunakan akal semaksimanya) datang dan membuat kejian dan kesimpulan, baru kita mempertikai apa yang mereka lakukan. Dunia ini Allah jadikan untuk Muslim, tetapi oleh kerana Muslim lebih suka menyebukkan diri dengan ayat-ayat tidak perlu bukti, dari ayat-ayat yang mengarah kita mencari bukti dengan menggunakan akal, maka Muslim menjadi tertutup mindanya untuk menjadi proaktif, selalu hanya menjdi pembangkang yang beremosi.

2. Ilmu sains itu adalah ilmu mengkaji Alam, yang kita tahu ada pembentuknya. Ada cara-cara membentuknya, Ada carakerja yang perlu dilaksanakan, walaupun pada perlaksanaannya Allah hanya sebut jadi maka jadilah, tidak perlu menggunakan alat atau sesuatu. Bagaimanapun Allah mengingatkan kita melalui Al Quran, bahawa di dalam semua kejadian atau pembentukan itu, terdapat tanda-tanda kekuasaanNya, tanda-tanda carakerjaNya telah dilaksanakan. Dan hanya orang yang berfikir atau Ulil Al Baab sahaja yang dapat menangkapnya. Yang mendapat kunci ghaib yang menutup pengetahuan itu kepada unum. Allah Maha Adil dan Dia memberikan ilmu kepada sesiapa yang dikehendakiNya, samada orang itu kenal padaNya atau percaya padaNya atau tidak. Itulah Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah. Segala hakmilik adalah milikNya, tetapi hakguna diberikan kepada mahlukNya. Kita bebas memilih untuk melakukan apa sahaja dengan hanya terbatas kepada peraturan carakerjaNya, SunnahNya.

3. Saya tidak hairan dengan kadar pembangkangan yang berlaku kepada kebenaran. Manusia yang bertamadun telah hidup dengan kepercayaan yang salah sejak 10,000 tahun dahulu tentang Matahari yang mengelilingi Bumi. Hanya apabila saintis membuktikan bahawa kebenarnya adalah sebaliknya, kurang dari 500 tahun dahulu, barulah Muslim membaca ayat yang sama dengan pengertian yang berbeza. Dahulunya sebelum kebenaran diketengahkan, mereka membaca dengan tidak memahami apa yang dibaca, kerana pengajaran yang diberikan kepada mereka adalah seperti itu sejak turun temurun. Ini semua kerana Muslim tidak mahu menggunakan akal dengan cara terbaik dan maksima, dan hanya bergantung kepada orang lain untuk membuat kajian. Apabila kajian dah ada, mereka datang untuk hanya mempertikai dan berbalah tentangnya. Betapa egonya Muslim sebegini? Apakah itu yang Allah mahu dari Seorang Muslim? Terus hidup dalam kepercayaan taklid semata-mata, tanpa mahu berusaha mencari kebenaran. Kalau kita memilih yang ini dan menolak yang itu, di mana kedua-duanya diperolehi dari asas pengkajian yang sama, iaitu ilu sains, maka jadilah kita orang yang berpura-pura. Saya tak kata teori itu dah sempurna tetapi marilah kita berkerjasama mencari kebenaran ayng tersirat di dalamnya. Hanya Allah yang Maha Sempurna.

May 14, 2008 6:09 PM


R85 – SI “Korbankan ‘Melayu’ Demi Islam?”

Ogos 27, 2008

Dari Blog Saifulislam.com

Ujian October 19th, 2007 at 3:04 pm

Salam Melayu

1. Perlu diingat bahawa berbudaya datang lebih awal dari beragama. Nilai-nilai dalam berbudaya terbena secara perlahan (berevolusi) dari idea-idea ahli budaya (orang-orang yang membentuk budaya tersebut). Peraturan dalam berbudaya adalah kesepakatan yang diterima ramai bagi memastikan kesinambungan budaya tersebut. Segala pekara yang dipercayai boleh menjadikan sesuatu peraturan itu dapat menguatkan maysarakat di dalam sesuatu budaya itu diterimapakai sehingglah ianya didapati tidak dapat memberikan manfaat kepada mereka dalam bermasyarakat.

2. Isu Melayu, bahkan bangsa lain sekalipun, masuk Islam, perlu dilihat sebagai Melayu masuk Muslim. Walaupun Muslim itu adalah orang-orang yang mengamalkan Islam, tahap pengamalan Islam itu selalunya menjadi tandatanya, apabila orang itu gagal membawa Islam yang sebenar. Dari pengamatan Saifulislam.com secara menyeluruh, Islam dan Muslim itu adalah dua entiti yang sangat berbeza, sebagaimana berbezanya Saifulislam.com dan Ustaz Hasrizal sendiri.

3. Islam adalah agama yang sempurna, yang diturunkan kepada manusia oleh Pencipta yang Maha Sempurna. Penafsiran atau penterjemaahan yang betul telah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, dengan pengawasan penuh dari Allah swt. Nabi saw yang merupakan orang berbangsa Arab, seperti bangsa-bangsa lain termasuk Melayu, mempunyai budaya tersendiri sebelum menerima Islam. Maka oleh itu sangatlah penting untuk kita memahami kedudukan budaya dan agama bagi membahaskan dengan tepat yang mana satu perlu diambil dan yang mana satu perlu ditinggalkan.

4. Tidak dinafikan bangsa-bangsa bukan Europa, terutamanya bangsa-bangsa Timur (termsuklah rumpun Melayu Nusantara dan Melayu Malaysia), merupakan bangsa-bangsa yang mempunyai budaya yang lemah lembut, sopan santun dan pelbagai cara halus (bukan ilmu hitam) dalam menjalankan sosial harian sesama mereka. Contoh ketara seperti menerima berlapis dan menolak beralas. Sebagai orang yang mengamalkan pekara ini, kita mengatakan ia sesuatu yang terbaik, tetapi tidakkah kita terfikir bahawa sari satu sudut, ia akhirnya boleh disalahgunakan, secara sedar atau tidak, menjadi, kehilangan ketelusan.

5. Bangsa-bangsa yang mengamalkan budaya terus tanpa selindung (dengan risikonya sekali, semestinya) nampaknya lebih berjaya, dalam menguasai dunia. Ini juga merupakan Sunattulah, yang harus dikaji oleh pengamal budaya lemah-lembut, seperti Melayu, agar dengan kedatangan Islam, yang sudah pasti serasi dengan Sunahtullah, menganalisa secara terperinci, mana satu ciri-ciri budaya yang mesti diketepi, sebagai tanda berkesannya pengambilan carakerja, cara hidup beragama, terutamanya dengan agama yang dinamakan Islam.

6. Penerapan Islam oleh satu-satu bangsa tidak semestinya menjadikan semua orang Islam, atau Muslim itu mempunyai satu cara melaksana sesuatu. Ya, secara asasnya memang hanya satu, contoh berpakaian mesti menutup aurat tetapi tidak semua mesti berbaju Melayu, macam Melayu atau menjadikan jubah pakaian ke masjid, macam orang Badwi, lengkap dengan tali unta di kepala dan sebagainya. Yang menjadi masaalah adalah apabila proiriti untuk menerapkan yang asas ditukar dengan yang kurang asas, dan kemudian dipertahankan sebagai tidak mengikut sunnah Nabi saw. Pekara ini berlaku secara berleluasa sehinggakan generasi baru tidak dapat membeza yang mana satu budaya dan yang mana satu agama.

7. Kalau diambil rumpun Melayu Nusantara, pandangan-pandangan negatif pada Islam yang tidak menepati piawayan asal, semuanya adalah pengaruh kuat asal bangsa yang tidak dapat ditinggalkan oleh bangsa yang menganuti Islam tersebut, terutamanya Melayu. Janji Melayu, harapkan tongkat Melayu, merasa ketuanan Melayu yang kemudiannya menyebabkan kemalasan bertindak, ketidaktelusan Melayu dan bermacam yang lain, itu semuanya berasal dari budaya Melayu, yang sepatutnya dibuang apabila hendak memeluk Islam. Tidak layak dipanggil Muslim sebenarnya sekiranya tidak sampai kepada piawayan kehendak Rabbani. Tetapi sebagai kompromi, oleh kerana Kafir itu mempunyai pelbagai status, makan Muslim itu juga begitu juga. Dan Mukmin juga tidak dinafikan ada pelbagai status, bergantung kepada keimanan seseorang.

8. Di Indonesia, yang mana merupaka tempat periok mencair (melting pot) berbanding Malaysia yang berbentuk mar-mar (mosiac), budaya tidak menentukan agama. Lawat ke Bali dan kita akan dapat melihat serupanya budaya mereka yang menganut berbeza ugama, ditambah dengan para-rupa fizikal yang tidak banya berbeza dan bahasa pertuturan yang sama, sangat susah hendak merujuk kepada siapa yang dirujuk sebagai ‘Allah yang maha Kudus’, tanpa mendalami ciri-ciri sebenar yang membezakannya. Begitu juga yang bersembahayang bersolat bersama Nabi saw, beliau tidak menafikan kehadiran munafiq (bangsa sama, ugama lain, samada berpura atau sebaliknya).

9. Sebagai Melayu ‘biar mati anak jangan mati adat’ perlu dikemaskini. Sunahtullah akan membunuh budaya yang tidak dapat menghidupkan atau menyesuaikan ciri-ciri budaya yang tidak bersusaian dengan kemajuan (jasmani atau rohani). Buku Delima (macam tak betuk aja ejaannya) Melayu, hasil nukilan Pak Mahatir, sehingga dia ditahan, banyak menceritakan tentang isu ini.

10. Kalau diukur dari keserasian Islam dengan sains, terutama sains ketuhanan, memang jelas penerimaan Muslim kepada Islam sangat terbatas. Islam menganjurkan penghasilan umah yang maju di dunia dan di akhirat. Dari hasil yang ada sekarang, ramai Muslim yang menganggap perhatian yang lebih kepada akhirat dengan melupakan dunia (sub-con penimbaan ilmu sains) akan menjadikan mereka mendapat prioriti kelayskan ke Syurga. Tanpa mahu memikirkan sedalam-dalamnya, tiada dunia tiadalah akhirat.

Allahu ‘alam

[Reply]

34 Sharudin October 19th, 2007 at 3:26 pm

Ujian itu adalah saya


R84 – Evolusi Lagi #2.

Ogos 27, 2008

Dari Blog Sdr Saifuddin

1. Sangat bernas hujah saudara-saudari. Syabas kerana anda semua telah menggunakan minda kea rah sepatutnya. Dari pelbagai isu yang di timbulkan saya napak isu yang paling kritikal is aqidah. Memperbetul aqidah kea rah kefahaman Qoro dan Qadar, QQ. “Ia bukan cause & effect yang tiada faktor penengahnya, iaitu Allah.” Cantik sungguh penerangan dari Sdr Rauf (salam pekenalan). Maknanya masaalah ini (kefahaman Darwin dan Big Bang dan ilmu sains yang lain) boleh di pertemukan dengan seserasinya, yang tidak boleh hanyalah apabila kedua belas membawa kayu ukur yang berbeza. Maari kita cari perbezaan kayu ukur kerana 1m = 1.xx ela, setuju. Xx tu kerana kita perlu kepada pendapat pakar yang ahli dlam bidangnya.

2. Sdr Saifudin dan Sdr Rauf bersetuju dengan kehadiran cause and effect atau QQ. Kita semua telah ditanamkan dengan aqidah perlu beriman kepada QQ. Yang percaya atau tidak percaya, QQ akan menghukumi mereka. QQ ini yang selalunya saya rujuk sebagai Sunnah Allah atau carkerja Allah. Kita rujuklah dengan apa nama sekalipun akhirnya ia akan menjurus kepada QQ dan dia milik Allah. Tidak timbul kefahamp[an bahawa QQ telah diswastakan atai di subcontrakkan kepada yang lain dari Allah. Kerana Dialah, Legislative, Dialah Jurisdictive dan Dialah Executive. Saya serahkan kepada pengkaji bahasa Arab untuk memberikan kata sinonimnya.

3. Jadi kita bersetuju dengan adanya QQ. Yang kita tak setuju ialah siapa punya. Sebagai Muslim sudah pasti ia milik Allah. Yang tidak muslim, dan tidak percaya kepada adanya Tuhan dan tuhan, mereka gemar mengatakan ini sebagai nature, semulajadi. Alam semulajadi. Mother Nature. “zhab tabi’i ataupun Dhriyyun” penjelasan dari Sdr Raub. Adakah kita mahu menngambil pendekatan menjauhkan mereka, atau bermusuh dengan mereka, hanya kerana mereka tak nampak atau kurang jelas dengan pemilik kepada QQ atau Nature atau Tabii atau Dhriyyun? Adakah kita mahu berkeras kepada anak kita yang beium balig, kerana ingin meneruskan bermain api. Apakah kita musuhi anak belum samapi balig itu? Adakah kerana anak itu menangis sehingga terpaksa di masukkan ICU, contohnya, maka kita bertekad untuk memerangi mereka?

4. Balig syarie kita selalu dengar, bila manusia mumayyiz, mukallaf atau Melayunya Balig atau apa sahaja yang setara denganya. Balig hakiki yang susah nak dapat. Bukan sahala si Darwin dan kuncu-kuncunya belum Balig Hakiki, malah ramai Muslim. Yang menggelar diri Muslim belum Balig Hakiki. Balig Hakiki ini adalah apabibila kita dapat menterjemah di dalam kelakuan seharian kita, bahawa bukti wujudnya Allah adalah wujudnya Ala mini, wujudnya nature ini. Jadi tidak guna kita berkeras kepada yang belum balig, samada Syarie atau Hakiki. Berlembutlah dengan mereka, mungkin kalau tidak kerana yang belum balig itu anak kita, dia adalah mahluk Allah, yang sedang bekerja keras memahami carakerja Allah.

5. Kalau ada sesuatu yang salah diperkatakan oleh mereka (Barat, Sainstis, Belum Balig Hakiki), kita perlu ingat tiada sesuatu yang akan berlaku, terutama hasil kajian kerja Allah, sekiranya tidak mendapat keizin dari Allah. La hawla wakuwata illa biLah. Jang kita sekali-kali lupa pada itu. Allah menyiapkan Alam ini dengan peraturan dan kadar, dan tidak sekali-kali kamu akan dapati ianya berubah. Samada kami percaya atau tidak kepadaNya dan nya. Maka mereka tidak boleh menipu kita, mereka tidak boleh buat-buat hasil kajian mereka. Malah dari pengamatan saya, mereka tealh banya memahami carakerja Allah dan menghasilkan teknologi yang berguna kepada kita. Kalau tidak tak dapatlah kita nak berhujjah di internet ni!

6. MArilah sama-sama bekerjasama dan menjemput saudara-saudara ke rumah saya, teratak buruk, tak payah bayar sewa, yang disediakan mereka yang kita musuhi ini. Malangnya tiada kopi atau teh, malah air bujang pun tak dapat nak bagi, sebeb tu guna rumah percuma. Saya suka ke rumah Saifulislam.com pasal rumah itu lebih bermakna pada saya. Lama saya menumpang di sana. Selain dari menumpang di Bumi Allah, menumpang di Alam Allah, menumpang idea orang-orang yang mengkaji carakerja Allah, samaada mere sedar atau tidak. Datanglah tak kena tambang kan? Lagi rendah dari Air Asia atau MAS atau mana-mana. Jangan lupa minda terbuka. Yang tertutup kunci di almari rumah.


R83 – Evolusi lagi #1.

Ogos 27, 2008

Dari perbincangan di Blog Sdr Saifuddin.
Juga berkaitan ialah “Percaya atau Tidak?”

1. Wahai pemikir-pemikir sekelian, anda semua telah diberikan kekuatan jasmani dan rohani untuk merantau mencari ilmu di negeri orang. Malang semasa di negeri sendiri dahulu, ketika berada di pendidikan awal, seperti saya juga, kita melalui system yang tidak melatih mengunakan minda sepenuhnya. Bukan salah sepenuhnya ketidakterbukaan, tujuannya bagi membendung kalau ada penyalahgunaan kebebasan, kerana manusia dengan penagaruh emosinya boleh menyalahgunakan akal untuk tujaun tidak bermanfaat, menjadi terbaik dalam hal carakerja manusia (maker), dan tidak berusaha terbaik mencari makna carakerja Allah.

2. Fahamkan betul-betul kedua-duanya arts (carakerja mahluk) dan sains (carakerja haliq). Sebagai panduan carakerja manusia diwahyukan di Al Quran dengan beberapa ayat mengarah kita menjadi Al Baab, dengan keluar melalui pintu Al Quran ke Kitab Alam. Bilangan ayat di Kitab Alam tidak terkira sehinggakan, kiranya kita tambah beberapa kali sejumlah air lautan, tidak akan dapat menulis sepenuhnya ilmu atau iradah atau carakerja Allah. Bayangkan, kalau anda hafiz Al Quran sekalipun, terlalu sedikit ayat-ayat yang dihafal itu berbanding ayat-ayat yang menguasai perjalanan Alam.

3. Nah, sekarang apa bezanya graph y=mx2 (square) + 1 atau higher order equation, kau dilihat dari graph berbanding numerial method dalam penyelesaian manyak masaalah-masalah physics. Satu analogue dan satu lagi digital (quantumised). Tertapi perlu diingat walaupun digital tidak memaparkan data graph setiap masam ia adalah usaha terbaik mengambarkan graph tersebut. Sesat?, jangan! … tak jumpa jalan, tak apa!. Pinjam kata-kata Ustaz SI. Maknanya jangan diharap semua jigsaw puzzle sudah tersedia sekarang, untuk menceritakan peristiwa 15 billion tahun, tanpa menggunakan time machine. Kalau semua dah tersedia, anak anda nanti yang belajar apa lagi? “Bapak dah siapkan semua! Kau duduk mesjid aja lah!”

4. Masa British rampas Wright punya design, dia gunakan untuk melihat si Hitler yang tak sabar nak nyebrang. Kenapa tak guna bot, sampan? U boat? Kerana kapalterbang macam burung, pandangannya luas. Kalau gitu, hero sangat Airforce, suruh dia sahaja, jaga semua! Mana pergi kerjasama? Fahamkan ia dengan kerja sama-sama. Jauh bezanya. Dari atas, pandangn makro, dengan jigsaw yang belum siap sepenuhnyapun kita sudah boleh buat projection, bukan prediction. Prediction ni hal jumpa bomo Siam! Puh kanan puh kiri, siap satu! Tetapi projection atau interpolation adalah element penting dalam ilmu sains selepas observation dan data collection.

5. Si Tom buat obserbation, datang si Dick buat data collection dan kemudian Harry lupa buat projection, pasal Charles hantar somewhere, hehe. Datanglah si Ahmad, buat projection. Ahmad ok, no hankie pankie, tapi kawnnya yang baru jupa bomo tadi yang menyocok!. Iktibarnya kuatkan jatidiri, pada masa yang sama decentralize work load, dengan centralized monitoring, macam dalam Central Nervous System dengan decentralize budy parts. Kalau kita tak percaya pada subkontraktor kita, kerana kita kurang mahir dengan decentralized system atau ineffective monitoring system, itu bukan salah, subkontraktor. Kita bertanggungjawab keseluruhannya. Lagi sesat?

6. Evolusi adalah tentang blueprint, DNA. Kita tak boleh rujuk satu cell sperma dengan egg berevolusi menjadi orang dewasa, kerana DNAnya tidak berubah. Mutation DNA itu yang dipelajari sebagai evolusi. Semua benda ada DNA, mudah atau complex! Allah yang design semua ni .. dan dia letak dalam CD Dia bernama Qodo dan Qadar. QQ Melayu atau kebanyak Muslim banyak salah kefahaman. Bukan Melayu yang ditakdirkan mundur. Tetapi sesiapa yagn mengunakan cirri-ciri Melayu itu yang di Sunnah kan akan mundur. Sunnah Allah berlaku setiap masa dan tak pernah tertunggak.

7. Baca Bhg 6 Fi sitatah ayyam saya, untuk mula perbincangan Adam dari mana. Buangkan fikiran sempit, segala-segala perlu dah ada sekarang. Tak perlu tunggu generasi akan datang menyambungnya. Bukan saya kata kita tak boleh membuatnya, tetapi sebagai manusia kena makan, solat, dan bermacam ibadah dan kerja lain yang perlu dibuat. Yang belum terbukti, jangan pula dijadikan alas an oh Darwin tu gila, macam kaum Nabi Noh kata kat dia. Akhirnya jadi kapal. N Noh punya jati diri. Kalau dia ikut kata kawan tok moh tu tadi? Hanyutlah dia dengan isteri dan anak-anaknya sekali. Kuatkan jatidiri!

8. Creationist ke Evolitionist, bila cerita tang kuasa dan tenaga, tiada siapa yang ada melainkan Allah. Kita tolak Creationist kerana puzzle-puzzle yang ada cukup (walupun belum sepenuhnya ada) untuk membuat ectrapolation kepada evolisi. Sebaliknya Creationist tidak buat apa-apa untuk membuktikan apa-apa. Puh kanan puh kiri. Baik ke jahat ke? Semuanya dari Allah. ‘Faalhamaha Fujuroha wataqwaha’. Yang baik disaluran melalui agen malaikah dan yang jahat dari agen syaitan. Tapi perlu ingat syaitan itu sifat, yang memungkinkan penggunakan manusia atau jin, seperti Surah An Naas.

Ingat kita baru mula perlumbaan kan? Bukan nak cari kalah menang, tapi mencari Tuhan hakiki!


R082 SI – Perlukah Manusia Kepada Tuhan?

Ogos 26, 2008

Pak Din reply on May 10th, 2008 3:04 pm:

1. Pendekatan tradisi sediaada memanusiakan Allah, memahlukkan Allah, sudah pasti tanpa di sedari oleh yang melakukannya. Sebagai manusia kita menggunakan bahasa manusia untuk berhubung atau memberitahu dan mengambil-tahu sesuatu yang berlaku. Fakta ini telah di ketahui umum dan mudah untuk semua orang menangkapnya. Apabila sudah terbiasa dengan menceritakan tentang manusia atau tentang mahluk, manusia terbawa-bawa menceritakan kewujudan Allah sebagaimana mereka menceritakan tentang manusia atau mahluk. Maka bermulalah satu pengumpulan data-data yang salah dan semakin berlalu masa dan zaman, menebal kepercayaan terhadap apa yang dipercaya tentang Allah, terutama kerana ramainya yang tidak mahu mengapplikasikan kritikal tinking dalam pemikiran seharian.

2. Manusia hidup dalam kepercayaan. Manusia boleh hidup dalam kepercayaan walaupun kepercayaan itu tidak berasaskan kepada satu pembuktian yang kukuh. Ini telah berlaku zaman berzaman. Contoh yang paling ketara ialah, tamadun manusia yang telah berkembang sejak 5,000 tahu dahulu mampu melakar sejarah walaupun tanggapan atau kepercayaan salah terhadap kebenaran yang berlaku di alam. Manausia hanya tahu yang Bumi ini mengelilingi matahari kurang dari 500 tahun dahulu, dari 5000 tahun bertamadun. Itupun berlaku setelah satu jiwa terkorban dalam menyatakan kebenaran tersebut. Kita mungkin mengatakan itu tidak berlaku di dalam Islam, kerana padri Kristian yang menghukum mati ahli sains yang bercanggah pendapat dengan kepercayaan mereka.

3. Sedar atau tidak apa yang berlaku tentang kepercayaan boleh hidup tanpa kebenaran, masih terus berlaku sekarang, dengan berleluasanya keengganan masyarakat mendekatkan diri kepada ilmu sains, satu-satunya (the only) dislpin yang dapat membuktikan kebenaran Alam. Seperti yang pernah saya utarakan di dalam Siri DARWIN, memang ramai yang mengatakan mereka tidak menolak sains, tetapi sains bagaimana yang tidak ditolak? Hanya apabila sains menghasilkan kejuruteraan dan kemudian teknologi yang membantu menyenangkan hidup mereka. Contohnya, sains gunaan yang menghasilkan kereta dan segala pekakas dan peralatan modern, termasuk internet yang digunakan, tetapi apabila sains tersebut cuba menghubungkaitkan antara persekitaran dan ketuhanan, ilmu itu ditolak ke tepi, kerana ada ilmu alternatif yang lebih mudah, iaitu percaya sahajalah.

4. Jiwa anak-anak yang baru mengenal Alam, secara fitrahnya sangat ingin mengetahui dan mengenali kebenaran. Tanpa disedari ibubapa kebanyakaannya mematikan semangat ini, kerana kebuntuan mencari jawapan abibat dari perwarisan ‘perangkap adat’ yang tidak mengutamakan pemikiran. Maka membesarlah anak itu seperti ibubapanya, mewarisi warisan yang sama. Budaya ini terus dipertahan dan ada yang sanggup berkorban sehingga mengatakan ‘biar mati anak, jangan mati adat’. Penafsiran Islam yang berlaku selama itu tidak menjernihkan keadaan kerana pewarisan salah yang sangat menebal di kalangan masyarakat.

5. Tidak dapat tidak, kita perlu menyedari kesalahan kita meneruskan kepercayaan tanpa mahu mencari pembuktian. Hidup kita terus dihantui sikap selesa dengan kepercayaan yang ada, dibuktikan hanya dengan ayat-ayat yang tidak mengajak mencari bukti, sedangkan ada ayat-ayat yang mengarah untuk mencari pembuktian. Malangnya antibody melindungi kepercayaan ini sangat kebal dan disusahkan lagi oleh sikap empunya diri mahu mengekalkan kekebalan tidak menentu itu. Maka Allah terpaksa menutup hati dan minda mereka, dan memberikan ilham tentang ilmuNya itu kepada yang bersedia menerimanya. Sebab itu dikalangan Muslim pelajaran sains menjadi satu beban dan kesusahan yang amat sangat.

6. Maka teruslah kita menangguhkan jawapan sehinggalah anak dah besar, yang pada masa itu telah pun diimmunisasikan oleh masyarakat sekelilingnya dengan kekebalan yang diceritakan tadi. Berpusinglah satu kitaran lagi, dari generasi ke generasi. Hanya segelintir kecil yang dapat memikirkan kebenarannya, tetapi antara segelintir yang kecil itu juga ramai yang hanyut di bawa arus perdana melainkan sebahagian kecil dari segelintir tadi. Maka teruslah tradisi ‘.. akan jawab bila dah besar nanti’ sebagai warisan bangsa.

Sekitar perbincangan di Blog Saifulislam.com dengan tajuk “Perlaukah Manusia Kepada Tuhan?”. Walaupun jawapan kepada persolan itu adalah “ya” atau “YA”, sejarah pencarian manusia kepada Tuhan hakikinya, terlalu banyak terpesong dan menanbah bilangan agama yang ada di Dunia ini. Setiap kali penyelewangan akidah berlaku, manusia sekurang-kurang mendapat nilai-nilai muri kehidupan dari whyu yang diberikan olah Allah, tetapi tetap masih tidak dapat melihat ke arah hakikat ketuhanan yang sebenar.


R81 Nilai Islam tanpa Muslim.

Ogos 25, 2008

Salam nilai,

1. Nilai Islam tanpa Muslim. Sesuatu yang baru? Ya memang Ustaz telah lebih 10 tahun menguruskan Saifulislam berlandaskan nilai Islam. Ustaz Hasrizal sentiasa mengingatkan “Apa yang paling penting adalah komitmen kita dengan Akhlaq. Sepanjang Ramadhan, banyak artikel yang telah saya tulis untuk emphasize bahawa “kuat sejati ialah pada keupayaan mengawal diri ketika marah”. Kawal diri kalau suka sangat dengan sesuatu, kawal diri juga semasa marah atau bencikan sesuatu.”. Semuanya berkaitan akhlak dan berkaitan nilai Islam. Sehinggakan isu Paris kini dah ke Tokyo dan tidak hairan kalau ia terlihat di banyak lagi bandar-bandar besar di Dunia ini. Alhamdullilah.

2. Nilai Islam tanpa Muslim. Sesuatu yang baru? “5. Perlu diketahui dengan itu bahawa Alam keseluruhannya adalah Islam, iaitu dalam keadaan selamat dan menurut perintah Penciptanya, sehinggalah Allah menjadikan mahluk yang diberikan kebolehan untuk mencampakkan diri mereka ke lembah tidak selamat. Dengan adanya akal dan nafsu, manusia menjadi mahluk yang paling banyak diberikan pilihan untuk melaksanakan kehidupan. Segala-gala yang dibentuk pada awalnya boleh dimanfaatkan untuk manusia, terbatas hanya kepada kepintaran akal. Malangnya semua ini tidak berikan begitu sahaja, melainkan akan dipertanggung-jawabkan kepada manusia segala apa yang dia pilih untuk melakukannya. Allah sentiasa memberikan garis panduan melalui Kitab-kitab dan Rasul-rasulNya, agar manusia mendapat cara menjalankan kehidupan sesuai kehendakNya.” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/11/21/s02/

3. Nilai Islam tanpa Muslim. Sesuatu yang baru? “3. Allah tidak bertindak untuk terus menegur manusia dengan secara terus, melalui pemberian syariat tertentu pada awalnya, sebagaimana tidak adanya disebut Al Quran behubung permberian kitab atau suhuf kepada Nabi Adam. Bagaimanapun Al Quran menceritakan bagaimana anak-anak Nabi Adam belajar dari persekitaran (Alam) dengan meniru gaya perlakuan binatang melakukan sesuatu. Ini merupakan bukti bahawa Allah memberikan manusia kepercayaan penuh terhadap kepandaian mereka menggunakan akal yang baru diberikan. Hanya selepas beberapa waktu, manusia semakin jauh menyimpang dari landasan asal, barulah Allah bertindak mengwahyukan kepada orang-orang pilihannya, untuk membawa peringatan secara terperinci.” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/11/21/s03/

4. Nilai Islam tanpa Muslim. Sesuatu yang baru? “Islam adalah cara hidup yang diterima Allah. Islam itu dari sejak azali. Kesemua mahluk di dalam keadaan ISlam (selamat) sebelum Allah beriradah memberikan cukup akal kepada manusia pertama iaitu N Adam as. Selepas itu dengan berbekalkan akal dan ilmu, tanggungjawab juga terpikul ke atas bahu manusia dari segala pilihan yang dibuatnya. Isu kahlifah adalah isu kepimpinan dan kepimpinan itu bermula dari roh yang memimpin diri dan akhirnya mencapai kepada kepimpinan kepada sekumpulan diri atau masyarakat. Ini yang dikatakan politik. Kepimpinan masyarakat. Maka disebabkan Islam itu adalah cara hidup dan ia berkisar kepada USUL maarifatullah sebagai asas agama, kesemua politik atau kepimpinan masyarakat semestinya berpaksikan kepada ketuhanan. LAri dari asas tersebut maka ia tidak menajdi Islam lagi.” Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/11/21/s03/#comment-1822

5. Nilai Islam tanpa Muslim. Sesuatu yang baru? “3. Kenyataan “Hampir semua tamadun purba ada kesan wahyu dan kenabian padanya, biar pun sulit untuk kita buktikan secara jazam”, perlu dilihat dengan mengemukakan adanya 124,000 nabi-nabi yang telah diturunkan Allah. Dari manusia pertama, Nabi Adam, sehingga Nabi Muhammad saw, nabi penutup, dan sudah pasti Sunnah Allah menurunkan mengikut keperluan masa dan tempat. Jadi bolehlah dinafikan “Tetapi Tamadun Eropah nyata berbeza. Tiada nabi yang diutus untuk mereka selain Nabi Muhammad SAW sebagaimana kita.” Sekiranya tidak “bagaimana kesan yang hanya mampu dicetus oleh sari pati Tauhid boleh kelihatan dalam banyak aspek kehidupan Eropah hari ini?” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/11/26/r48/

6. Nilai Islam tanpa Muslim. Sesuatu yang baru? “5. Islam itu jelas dari mula. Islam itu memberikan penekanan kepada mengenal dan mentauhidkan Allah dari mula. Mengesakan Allah tidak berubah dari awal sehinggalah ke Nabi terakhir, walaupun syariat berubah mengikut zaman, sesuai tahap kepandaian manusia menggunakan akal yang diberikan Allah dari mulanya. Dan tahap penggunaan akal manusia masih terus berkembang, sesuai penemuan-penemuan ilmu alam semulajadi yang baru oleh manusia. Maka setiap kali pengamal Islam terkeluar dari landasan tauhid, Allah menurunkan Kitab dan persuruhNya untuk memperbetulkan keadaan. Yang terkeluar dari landasan inilah yang akhirnya menamakan diri mereka, lain dari Islam, contohnya menjadi Yahudi, Majusi, Nasrani dan sebagainya (dengan Islam sebagai asas),” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/10/28/r21/

7. Nilai Islam tanpa Muslim. Sesuatu yang baru? Persoalannya sekiranya nilai Islam itu terdapat dan boleh dilihat di mana-mana, maka ia bukanlah sesuatu yang baru. Kerana sebelum N Adam diberikan cukup akal lagi, Islam itu sudah ada di Dunia ini, malah di Alam ini. Dengan pemberian akal kepada N Adam as, manusia diberikan kebebasan memilih. Malangnya terlalu ramai yang memilih mengikut nafsu, sehinggakan perutusan utamanya, iaitu mengenal Allah dengan mengesakanNya, menjadi rendah keutamaannya. Yang mudah diserap adalah nilai-nilai Islam yang datang dengan kalimat tauhid tadi. Cukup baik … tetapi tidak sampai kepada maarifatullah.

Untuk renungan. Sesuatu yang baru?


R80 Kitab ”KimyauSaadah” oleh Al Ghazali.

Ogos 19, 2008

chn5calligpeackockDari Blog Petunjuk ke Jalan Lurus.

Mengenal Diri Sendiri sebagai kunci untuk mengenal ALLAH S.W.T.

1. Sebagaimana yang diketahui, bahawa ajaran Ahwal (suatu perolehan dengan kurnia) dan maqamat (suatu perolehan dengan usaha) yang semuanya itu ditujukan untuk memperbaiki akhlak. Sedang tujuan perbaiki akhlak adalah untuk membersihkan qalbu yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (TAKHALLI) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji (TAHALLI) yang selanjutnya beroleh kenyataan Tuhan (TAJALLI).
Dengan demikian maka dapatlah difahamkan bahawa jalan untuk mengenal ALLAH, tidak dapat ditempuh dengan sekaligus, tetapi adalah sesuai dengan peribadi masing masing iaitu harus ditempuh secara bertingkat-tingkat. Pada tingkat untuk memasuki Ilmu Hakekat dan Ilmu Ma’rifat, berarti memasuki suatu jalan pengetahuan yang bertujuan untuk mengenal sesuatu itu dengan cara bersungguh sungguh, bahawa siapakah manusia itu, siapakah yang menjadikannya dan siapakah yang menciptakan sekalian itu. Ilmu Tasawwuf meringkaskan jalan pengetahuan ini dengan berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang bermaksud ”Barang siapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya.

MENGENAL DIRI SENDIRI

2. Langkah pertama untuk mengenal diri sendiri ialah dengan mengetahui bahawa diri itu tersusun dari bentuk-bentuk lahir (yang disebut badan atau jasad) dan bentuk-bentuk bathin (yang disebut qalbu atau jiwa). Yang dimaksudkan dengan Qalbu itu bukanlah yang berupa segumpal daging yang berada disebelah kiri badan di bawah susu (yang dikatakan jantung). Tetapi dialah Roh suci dan berpengaruh di dalam tubuh dan dialah yang mengatur jasmani dan segenap anggota badan. Dialah Hakikat Insan Allah (yang dinamakan diri yang sebenarnya diri). Dialah yang bertanggung jawab dan dialah yang dipuji atau diseksa oleh Allah SWT.

3. Untuk meneliti dan mengenal diri sendiri itu, maka jasad dapat dimisalkan sebagai suatu kerajaan. Dan roh sebagai Rajanya yang berkuasa dan dialah yang mengatur jasmani. Jasmani adalah sebagai suatu Kerajaan dalam bentuk Alamuasyahadah atau Alam Nyata. Seluruh badan jasmani akan hancur binasa setelah mati, tetapi hakikat Roh dan jiwa tidak akan mati, ia tetap tinggal dalam Ilmu Allah. Dan Rohani / Jiwa adalah sebagai Raja dalam bentuk Alam Ghaib, maksudnya bahawa Roh / Jiwa itu adalah ghaib, keadaannya tidak terpisah-pisah, tidak terbatas oleh waktu dan ruang, tidak tentu tempatnya dalam sesuatu bahagian tubuh, oleh kerana itu maka setiap manusia adalah merupakan pemerintah di atas kerajaan kecil didalam dirinya sendiri. Sungguh benar sekali istilah yang menyebutkan bahawa ”Manusia itu adalah mikromos” atau dunia kecil dalam dirinya sendiri.

4. Sebahagian orang berpendapat bahawa hakekat Qalbu atau Roh itu dapat dicapai dengan cara memejamkan kedua matanya serta melupakan segala yang ada di sekitarnya, kecuali peribadinya. Dengan cara begitu akan dapat juga kilauan dari alam abadi kepada peribadinya (dalam mengenal dirinya). Tetapi bagaimanapun juga segala pertanyaan yang mendalam tentang hakikat Roh yang sesungguhnya, adalah tidak diizinkan oleh Allah Yang Maha Esa. Didalam Quran Allah berfirman: ”Mereka itu bertanya kepada Engkau Muhammad, tentang Roh, katakanlah bahawa Roh itu urusan Tuhanku, tidak kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit saja” .(S. Isra 85) . Apabila seseorang bertafakur atas dirinya sendiri, maka ia akan dapat mengetahui bahawa dirinya itu pada masa dahulunya, ”tidaknya pernah ada”. Firman Allah: ”Tidaklah manusia itu ingat bahawa kami menjadikannya dahulunya sedang ia belum ada suatu apapun”. Kemudian manusia itu akan mengetahui bahawa ia sebenarnya dijadikan dari setitis air (mani) yang tidak mempunyai akal sedikitpun, tidak mempunyai pendengaran, penglihatan, kaki, tangan, kepala dan sebagainya. Dari sinilah manusia akan mengetahui dengan terang dan nyata, bahawa tingkat kesempurnaan yang ia dapat capai bukanlah ia yang membuatnya, kerana sehelai rambut pun manusia itu tidak akan sanggup membuatnya.

5. Dengan jalan memikirkan hal tersebut diatas maka manusia itu dapat menemukan dirinya di dalam kejadian yang sangat kecil bila dibandingkan dengan Kekuasaan dan Kasih-Sayangnya Tuhan yang menjadikannya. Dan apabila manusia itu berfikir jauh maka ternyata didalam kehidupan ia memerlukan berbagai macam keperluan seperti makanan, pakaian, perumahan dan sebagainya ,yang kesemuanya itu telah tersedia lengkap didalam muka bumi ini. Disini manusia akan menjadi sedar akan sifat Rahman dan Rahimnya Allah yang begitu besar dan luasnya. Demikianlah alam dunia yang diciptakan Allah penuh dengan keajaiban keajaiban. Rangka jasad adalah bukti Kekuasaan dan KebijaksanaanNya dan penuh pula dengan berbagai-bagai alat kelengkapan yang dibuatNya sebagai tanda Kasih Sayang-Nya, pada keperluan hidup manusia, maka oleh kerana itu manusia akan mengetahui bahawa Allah itu ”ADA”. Oleh kerana itu benar-benar bahawa dengan penelitian dan pengenalan diri sendiri akan menjadi kunci bagi pengenalan Allah.

MENGENAL ALLAH

6. Bahagian yang penting dalam mengenal ALLAH, datangnya dari perbuatan perbuatan kita bagi mempelajari dan meneliti serta memikirkan diri sendiri, yang memberikan kepada kita kekuatan,kepandaian dan mencintai ciptaanNya. Sifat sifat manusia, bukan hanya menjadi gambaran dari sifat sifat ALLAH, tetapi juga ragam adanya jiwa manusia membawa keinsafan kepada pengertian adanya ALLAH. Maksudnya bahawa kedua duanya iaitu ALLAH dan ROH adalah ghaib, tidak terpisah, tidak terbilang, tidak berupa, tidak berbentuk, tidak berwarna dan tidak berukuran.

7. Manusia mendapat kesukaran dalam menerima gambaran tersebut, Tetapi kesukaran kesukaran itu sememangnya dirasakan oleh fikiran kita setiap masa seperti perasaan marah,sakit ,gembira dan cinta.Hal ini merupakan faham fikiran dan tidak dapat diketahui oleh otak kerana disebebkan oleh bentuk dan ukurannya. Seperti halnya, telinga tidak dapat mengenal warna, mata tidak dapat mengenal suara dan begitu pula dalam mengertikan kenyataan kenyataan pokok yakni Tuhan dan Roh. Kita sendiri hanya dapat sampai pada batas batas yang dapat dicapai oleh akal fikiran dan selebihnya akal fikiran kita tidak sanggup lagi memikirkannya sebegitu jauh. Betapapun juga, kita dapat melihat bahawa ALLAH itulah yang mengatur alam semesta dan Dia adalah tidak mengenal ruang dan waktu, tidak mengenal bentuk dan ukuran, yang memerintah segenap perkara demikian keadaannya. Sebagaimana yang telah dihuraikan, ”ROH” tidak mempunyai tempat tertentu dalam sesuatu bahagian badan, tidak terpisah pisah, tidak mengenal bentuk dan ukuran tetapi ia memerintah “JASAD”. Demekianlah ALLAH, tidak mengenal ruang dan masa, tidak mengenal bentuk dan ukuran tetapi DIA memerintah Alam Semesta. Itulah Tuhan Yang Esa, Maha Kuasa, Maha Besar dan Maha Agung.

Kimyau Saadah offline online


S031 Muhasabah setahun lepas #2.

Ogos 18, 2008

1. ” 7. Salah satu sebab kenapa sains perlu ‘dipisahkan’ dari kepercayaan, adalah kerana keajaiban yang boleh timbul dengan hanya kepercayaan. Terbukti di seluruh tamadun manusia dan dirakamkan oleh pepatah Melayu ‘Biar mati anak jangan mati adat’. Dengan kepercayaan manusia sanggup melakukan apa sahaja, walaupun tiada kebenaran pada apa yang dilakukan, atau, di atas dasar sangkaan yang kepercayaan mereka itu benar. Sains hanya boleh dinamakan sains apabila ada kepercayaan bahawa sesuatu itu dapat dibuktikan kebenarannya. Bukan dengan percaya tetapi empirikal. Lihat ayat Al Quran, serasi tetapi terpisah.” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/10/13/r8/

2. “5. Di sana sini firkah berpegang kepada Al Quran dan As Sunah, tetapi pada masa yang sama, kedua-dua itu menjadi senjata untuk mengkafirkan firkah yang belawanan. Saya sebenarnya tertekan dengan keadaan itu, sehinggalah apabila saya menggunakan keupayaan akal, pada tahap yang lebih tinggi, melalui pemahaman pemikiran falsafah, terasa perbezaannaya dan merasa lega, setelah letih melayan firkah yang tak berfikir.” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/10/11/r6/

3. “9. Dengan memahami hukum E = A + B + C + D, kita akan dapat memperjelas kedudukan komponan utama sesuatu entiti, termasuklah alam ini. Kita akan menjelajah kepada beberapa konsep baru, sebelum dapat memperincikan bagaimana kedudukan bahan asas alam, B kepada komponen lain iaitu C dan D. Yang penting ialah C (ilmu membuat) dan D (daya membuat) tidak hadir di dalam entiti yang dihasilkan. Jadi tidak ada kemungkinan, apa yang dihasilkan menyerupai bahan yang membentuknya.” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/10/09/35/

4. “4. Saya kira yang menjadi masaalah ialah sikap tak mahu belajar sains yang membelenggu muslim sekarang ini. Besar kemungkinan kerana, yang mengajar ilmu agama terlalu sedikit yang minat dengan sains, yang mahu mengaikan pelbagai teori sains kepada ketuhanan. Saya melihat pewaris-pewaris yang sebegini, tidak berjalan dengan dua kaki, iaitu maaf kata tempang.” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/10/15/r10/

5. “4. Dengan hanya menambahkan niat atau tujuan yang betul, melaksanakan setiap satu kerja, Allah menjadikan kerja tersebut sebagai satu kategori yang berbeza, yang lebih tinggi, dari kerja biasa kepada ibadah. Dari hanya mendapat keizinan kepada mendapat keredhaan Allah swt. Begitu mudahnya tugas manusia mendapatkan keredhaan dari Tuhannya, menjadi sesuatu yang amat berat untuk dilaksanakan kerana ramai antara manusia yang tidak mahu memikirkannya sebelum membuat sesuatu pekerjaan.” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/10/16/36/

6. “Ilmu Tauhid adalah ilmu mengenal Allah. Dengan memahami ilmu sains, kefahaman kita kepada Allah akan menjadi lebih berkesan, sebagaimana contoh orang Purba pun pandai buat rumah, tetapi dengan sains dan teknologi, teknik membuat rumah menjadi lebih berkesan dan menghasilkan rumah yang jauh lebih baik. Kalau pemikiran kita terbuka kepada manhaj ilmu sains (akal rational), insyaAllah, kewujudan Allah akan menjadi lebih bermakna pada kita sebagai muslim dan mukmin.” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/10/16/r11/

7. “3. Ahli Sunnah wal jamaah (mereka yang mengikuti Al Quran, Sunnah dan Qias-Jemaah) pun tidak terlepas dari ratio 1:73, bukan sahaja ahli Kitab zaman dahulu. Ini juga angkara penggunaan istilah setara buroq. Mungkin kalau tidak di tahap asas, usul, pokok, terdaptlah perbebezaan di pringkat furuk, dahan, ranting. Ia, memang ada yang medamaikan diri dengan ‘Firkah itu rahmat’ tetapi dengan ramai yang anti-Mazhab (selangkah sebelum anti-Pluralisma) sekecil mana firkah di tangan, akan menjadi isu yang besar. Tak ke meluas perpechahan 8 dan 20 rakaat pada yang sunat?” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/10/17/r12/


S030 Muhasabah setahun lepas #1.

Ogos 17, 2008

1. “4. Ustaz Hasrizal sentiasa mengingatkan “Apa yang paling penting adalah komitmen kita dengan Akhlaq. Sepanjang Ramadhan, banyak artikel yang telah saya tulis untuk emphasize bahawa “kuat sejati ialah pada keupayaan mengawal diri ketika marah”. Kawal diri kalau suka sangat dengan sesuatu, kawal diri juga semasa marah atau bencikan sesuatu.” Dan kadang-kadang (hampir selalu sebenarnya) menurut Akhi Amin Ahmad “sememangnya kita pilih utk tidak bersetuju (kadang2 tanpa hujah)..”. Tiada alasan yang dapat difikirkan dengan rational, bahkan hanya menurut emosi (dari pengaruh lambaian warna-warna melambai lembut di atas).” – dari http://sharudin.wordpress.com/2007/11/14/r37/

2. “3. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah kita faham dengan apa yang Allah sampaikan melalui RasulNya. Kalau dalam bab akidahpun ramai yang termasuk di dalam golongan 72 dari 73, iaitu 1/73, apatah lagi dalam bab-bab yang lain dari akidah. Sebenarnya tiada pemisahan antara ekomoni dan akidah. Semuanya ada di dalam Islam. Tetapi kerana Muslim telah mesub-kontrak kebanyakan penimbaan ilmu sains kepada bukan Islam, timbullah pengasingan antara bab-bab agama dan sains. Begitu juga boleh dikatakan kebanyakan teori yang dilaksanakan dalam kehidupan adalah dirumus oleh bukan Muslim, walaupun pada mulanya ada yang berdasarkan pemikiran Islam.” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/11/17/r38/

3. “6. Ilmu sains adalah alat untuk menghasilkan bukti. Ia tidak dapat dan tidak boleh menjadi asas membenih kepercayaan atau iman. Keperluan beriman atau percaya perlu, pada asas dan permulaan, tetapi sekiranya ia tidak disambung dengan penggunaan alat (ilmu sains), kepercayaan tersebut akan terus hanya berdasarkan kepercayaan tanpa pembuktian. Itu asas kepincangan umat Muslim hari ini. Terlalu dihantui dengan ugutan kehidupan akhirat, sehingga mati kekuatan pemikiran. Lupakah kita bahawa, hanya dengan pemberian akal, kita layak bergelar manusia? Hanya dengan pemberian ilmu (yang bergantung pada akal) manusia dilantik menjadi khalifah di Bumi Allah ini? Dan beragama itu (Islam) tidak lain hanya kerana berakal? Jadi kenapa pendekatannya selalu menolak penggunaan akal? Untuk mempermudah penyampaian … sehingga semuanya tergelincir dari jalan yang lurus!” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/12/03/s06/

4. “2. Kesemua idea-idea yang diberikan adalah ilham dari Allah, yang pada saya telah melalui penapisan dalam bentuk pengalaman yang saya lalui sehingga ke umur Asar ini. Saya pernah jelaskan di AAN, segala yang saya tuliskan di AAN akan dipertanggung-jawabkan kepada saya sehinggalah terpaksa menjawabnya di Mahkamah di Akhirat kelak. Tidak timbul isu idea bernas atau tidak kerana, konsep yang saya paparkan ialah konsep isi dan kulit . Allah telah menjadikan manusia berbeza dari mahluk yang lain dengan adanya akal dan logik (maaf kalau Sdr termasuk di dalam golongan yang alergik kepada logik).” = Dari http://sharudin.wordpress.com/2008/07/29/r78-blog-sdr-shahmuzir/

5. “7. Komen saya di Blog Sdr Mukhtar berhubung Salaffossoleh.
Persoalan yang perlu disampaikan kepada Muslim sekarang bukan sahaja perlu berkisar kepada kebanggaan menjadi Muslim atau mengambil kalangan ahli masyarakat yang hidup di zaman Salafi sebagai idola, tetapi perlu menjangkau lebih sedikit kepada isu-isu semasa zaman Salafi dan zaman ini.
Kalau Salafi zaman Nabi boleh menyediakan tapak penakhlukan dunia ketika itu, dengan senjata tercanggihnya ialah pedang dan kuda, kita jangan terbawa semangat berpedang dan berkuda, mengikut apa yang dikatakan sebagai Sunnah Nabi SAW. Keadaan semasa itu adalah pedang dan kuda.
Menjadikan Salafi idola sebagai contoh perlu kepada melihat yang tersirat bukan yang tersurat. Yang tersurat ialah pedang dan kuda, yang tersirat ialah kemenangan Muslim mengatasi kekuatan Kafir. Sekarang ini kalau Muslim mahu mengidolakan Salafi, jangan di atas dasar mengenepikan ilmu sains dan teknologi.” = Dari http://sharudin.wordpress.com/2008/07/18/s019-hasil-44-hari-keluar-ke-aan/

6. “2. Saya mengambil ayat dari AQ yang mengatakan Alam ini terbentuk di dalam enam ayyam, yang saya ringkaskan di dalam Bhg 6, Teori DARWIN, Fi sittah … Penceramah di video menerangkan, pada molecular level, iaitu tahap 3 dan 4 dalam ringkasan saya Bhg 6, semua yang ada di Alam ini terdiri dari atom yang sentiasa bergerak. Dynamic Equilibrium. Saya kira ini tidak dapat disangkal lagi bagi mereka yang mempelajari Alam melalui displin sains. Keseluruhan blog saya adalah bertujuan untuk menserasikan pembuktian ilmu sains kepada adanya nas-nas yang berkaitan dengan aqidah kita tentang kehidupan. Saya pasti dengan minda yang terbuka luas, penserasian dapat diperolehi. Ilmu sians ialah ilmu yang mengkaji carakerja Allah. Kitab AQ tidak memperincikan penerangan tentang proses pembentukan Alam. Bagaimanapun Kitab AQ mengarahkan kita merujuk ke Kitab Alam untuk mencari jawapan.” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2008/07/08/s017-harun-yahaya-ww/

7. “1. Pencarian manusia kepada tuhan bermula dari ‘baliq’. Setelah Allah swt mengajarkan nama2 sebagai simbolik kenaikan pangkat kepada khalifah. Perlu juga diingat mulanya Islam (budaya hidup) juga pada saat yang sama. Bukan bermakna yang sebelum itu tidak Islam, (seluruh alam bertasbih kepadaNya) tetapi dengan bermulanya kewarasan akal, mahluk Allah dipertanggung-jawabkan dengan pilihan yang dibuat. Perkembangan pengunaan akal terus meningkat dari saat itu, berinteraksi dengan alam dengan petunjuk (sedar atau tidak) dari Allah swt.” – Dari http://sharudin.wordpress.com/2007/08/28/bhg04/


S029 Setahun berblog.

Ogos 16, 2008

micro_bash wrote:
salam…saye copy paste bende ni untuk tatapan sume..sile bace dan fikirkan..
Adam-adam’ Sebelum ADAM?

“Tapi saya rasa lecturer saya dapat yakinkan saya bahawa Teori Evolusi itu ada benarnya. Rasa resah betul masa dalam kelas”, kata Nazri, salah seorang pelajar yang mengikuti kursus bersama saya.
“Soalnya sekarang, apakah Teori Evolusi itu memang bertentangan dengan Islam? Apakah pendirian Islam terhadap Teori Darwin? 100% bertentangan atau bagaimana?”, saya bertanya kembali kepada beliau.
Mudah-mudahan dengan perkongsian maklumat ini akan dapat membuktikan kepada pembaca, betapa ulama, ahli sains dan ahli sejarah saling memerlukan di antara satu sama lain untuk lebih memahami agama, Allah SWT, manusia dan alam sejagat.
Jangan kita mangsakan Islam dan Muslim oleh sembang simplistik yang merugikan itu.

=============================
ARTIKEL INI SAYA TULIS UNTUK MEREKA YANG SUDAH BIASA DENGAN SUBJEK-SUBJEK YANG DIBINCANGKAN. PERSPEKTIF SEJARAH DARWINISM, ILMU SAINS BIOLOGI DAN KEJURUTERAAN GENETIK DAN SERBA SEDIKIT PENDEDAHAN KEPADA ILMU SEJARAH DI KALANGAN ILMUAN ISLAM YANG AWAL. JIKA ANDA KELIRU DENGAN MANA-MANA ISTILAH, MANFAATKAN WIKIPEDIA. TERIMA KASIH.

cendiakawan2 skalian,jom perah otak and bukak quran!!!

SUMBER:
saifulislam.com

nasihat admin : jgn lupa sertakan sumber ya di kali yang lain, apatah lagi bila pengarang asal dah beri peringatan.. insyaAllah.. teruskan berforum di iLuvislam.com, moga bercambah kebaikan darinya..
-noman-

Terima kasih kepada Ustaz Hasrizal sekali lagi. Genap setahun saya berblog, dimulai dengan tajuk ini.

Dari ILI


R79 Saifulislam.com: Belajar Befikir

Ogos 15, 2008

Komen kepada artikel di Saifulislam “Belajar Berfikir”

Salam fikir,

1. Terima kasih Ustaz kerana mengatakan, “Lalu agama dibentangkan secara yang sungguh tidak masuk akal, demi memenangkan teks yang tidak diprosesnya melalui disiplin fikir.” Manhaj yang mementingkan teks dari konteks. Mementingkan tersurat dari tersirat, dan sebagainya. Inilah yang telah menyebabkan Muslim tidak dapat lagi menandangi kemajuan yang dicapai oleh bukan Islam. Janganlah kita berharap hanya kepada kejayaan di Akhirat sahaja tanpa mahu mengambilkira bahawa kejayaan di Dunia banyak mempengaruhi kejayaan di Akhirat. Allah berikan kita, sebagai roh, jasad di Dunia untuk menjalani ujian yang akan menentukan kedudukan di Akhirat. Maka keizinan Allah untuk kita melaksanakan sesuatu di Dunia akan mengukur keredoanNya di Akhirat, sudah pasti dengan cara mengikut piawaian Islam sebenar, yang sentiasa mengajak kita untuk berfikir dan mengkaji segala kejadian ciptaan Allah di Alam ini.

2. Terima kasih juga ke atas sedikit penjelasan tentang “Kalimah ayyaam boleh diertikan sebagai peringkat atau marhalah… justeru keterangan al-Quran tentang cara Allah mencipta bumi, … “ yang sangat membantu menyokong artikel saya bertajuk Bhg 6, Fi Sitat …. Artikel itu dipaparkan. juga untuk memulakan proses pemikiran bagi mencari penjelasan terbaik tentang kejadian Alam dari mula, sehinggalah kepada puncak penciptaan iaitu manusia, dengan hadirnya Nabi Adam as sebagai manusia pertama. Keseluruhan sejarah kehidupan bermula dengan Big Bang dan kemudian memungkinkan berlakunya evolusi ke arah penciptaan terbaik. Kesemua ini adalah selaras dengan apa yang disebut di dalam Al Quran bahawa segalanya dahulu satu dan Allah telah pisahkan kemudian. Tanpa pemikiran yang kritikal tidak mungkin kita dapat memahami ayat AQ yang berkenaan.

3. Terima kasih Sdr Saifuddin, yang mempunyai jangkauan minda yang jauh. Seorang pelajar yang berpotensi menjadi pemikir yang sangat baik. Ketidak-pastian yang dinyatakan di Komen #3 itu adalah sesuatu yang biasa bagi kita sebagai mahluk, kerana akhirnya hanya Allah yang tahu segala-galanya. Tetapi Sdr Saifuddin terus memberikan pendapat walaupun di dalam keadaan kesamaran dan ragu-ragu. Kehidupan kita adalah di dalam dynamic equilibrium, iaitu mengimbangi dua pekara. Pada asasnya mengimbangi element baik dan buruk (roh dan nafsu) dan dalam isu ini mengimbangi haq dan yang belum haq. Keseluruhan pembelajaran ilmu sains, sebagai ilmu mengkaji carakerja Allah, adalah berdasarkan kepada pembuktian keraguan. Membuktikan sesuatu yang samar dengan melihat kepada Alam untuk membuktikan kesahihannya.

4. Memang ramai Muslim yang lebih suka bersikap tunggu dan lihat. Bila kajian sains sudah dikeluarkan, merekalah yang akan menjadi orang pertama mengatakan “Kan AQ dah kata begitu!”. Maka sikap ini sebenarnya ialah sikap malas berfikir yang telah sangat sebati dengan Muslim akhir-akhir ini. Sejak zaman kegemilangan Sains Islam terpadam sekitar 700 tahu selepas kelahiran Nabi saw, proses berfikir ini telah diambilalih oleh sainstis bukan Islam dan selepas 700 tahun, Muslim sudah tidak terkejar dengan kemajuan cara berfikir mereka. Sensitif juga kalau dikatakan Muktazilah-lah yang mula mempelopori proses berfikir, (seperti kata Ustaz “Muktazilah yang meletakkan akal mengatasi naqal (nas periwayatan), telah diuruskan nasib mereka oleh sejarah.”) , tetapi selepas itu beberapa manhaj lain yang timbul dan cuba mengimbangi dalil aqli dan naqli, seperti yang dikemukan di dalam Ilmu Kalam, juga mendapat tentangan serupa, walaupun kurang hangatnya.

5. Apabila Imam Ghazali mendalami falsafah bagi membendung ketelanjuran penggunaan aqli ke atas naqli, beliau tidak mensarankan pembunuhan proses berfikir. Terlibatnya beliau dengan ilmu mantik, menandakan ilmu itu ada manfaatnya dalam mencari kesimbangan. Keseimbangan antara percaya dan fakir. Antara Agama dan Sains dan sebagainya. “Agama juga tidak tertegak dengan membunuh akal”. Salah tafsir kefahaman kepada apa yang dikemukan oleh Imam Ghazali telah menyebabkan Muslim selepas zamannya mengalami kemerosotan proses berfikir. Memang benar AQ mensarankan “Samikna waatokna – Dengar dan taat”, tetapi AQ juga berkali-kali mengajak kita menggunakan akal dalam menjalani kehidupan. Maka tidak timbul kesalahan meletakkan ditengah “dengar dan taat” itu proses fikir dan bukti.

6. Keimanan manusia diukur dari keberkesanan pengawalan nafsu. AQ sekurang-kurangnya mengkategorikan tiga tahap pengawalan nafsu yang semestinya menghasilkan tiga tahap keimanan. Maka iman itu mempunyai tahapnya tersendiri. Dari beriman sesara ikut (takliq) kita perlu meningkatkan kepada iman yang berilmu, dengan pengajian Tauhid Afal (lanjutan dari Tauhis Ubudiah, Uluhiah dan Asma wa Sifat). Hanya dengan menjadi Al Baab, tarbiah Allah di Alam ini dapat dimanfaatkan. Dan ilmu untuk memahami tarbiah Allah di Alam ini adalah ilmu sains. Maka perlunya mencari keserasian ilmu sains dan ilmu agama, adalah sesuatu yang sangat penting dan mengukur tahap keimanan.


S028 Dari Komen 347 (29 Sep 2007)

Ogos 15, 2008

Komen 347

1. Bagaimana hendak mengaitkan teori Darwin (atau semua teori sains) dengan iman?. Kita kena tanya betul-betul diri, apa yang difahamkan dari ayat yang telah digunakan banyak kali iaitu “Di dalam penciptaan … terdapat ayat-ayat (tanda keberadaan/kekuasaan Allah) bagi Al Baab”. Adakah ayat-ayat Allah hanya apa yang termaktub di dalam Al Quran sahaja, ataupun ayat asas di dalam Al Quran dan ayat penghurainya di kitab alam.? Kalau kita mengambil hanya satu sahaja (ayat yang di dalam Al Quran), maka disitu sahaja iman kita telah teruji.

2. Ini bermakna keseluruhan kejadian-kejadian yang berlaku di alam ini (dengan menggunakan qias dari ayat tadi dan banyak lagi ayat-ayat sains) adalah ayat-ayat yang membuktikan adanya Allah dan kalau dikaji secara mendalam akan menjurus kepada mengetahui carakerja Allah. Kenyataan sains yang asas, Allah paparkan dalam Al Quran, dengan detailnya, Allah tuliskan di alam ini. Sebab itu Bhg 2, mengajak kita memberikan keadilan kepada Al Quran, bukan dibaca/dihafal untuk pahala sahaja, tetapi yang lebih penting mendapatkan petunjukNya. Barulah jadi ‘rahmatan lil alamin’.

3. Apakah kita sebenarnya mengenal Allah dengan hanya menghafal AsmaNya atau SifatNya sahaja. Sudah pasti kita kena mengetahui secara mendalam AfalNya (carakerjaNya) bagi memantapkan lagi keilmuan kita tentang Allah. Memang Al Quran memberikan ganjaran besar kepada yang menghafalnya, tetapi ganjaran yang lebih besar bukan sahaja di perolehi di akhirat, malah di dunia, sekiranya kita faham bagaimana Sunattulah berfungsi.

4. Kalau kita hanya meraba-raba di dalam gelap (menyangka) bagaimana afalNya, kita sebenarnya sukar untuk mendapat keizinannya melakukan sesuatu di dunia ini. Tiada sains dan teknologi yang ditemui sekarang di dunia ini, yang tidak mendapat keizinan dariNya. Kebanyakan penemuan sains dikalukan oleh orang bukan Islam, kerana mereka tidak jemu dan gigih menggunakan minda dan akal yang diberikan Allah kepada mereka, sedangkan muslim tersilap tafsir kepentingan penggunaan akal.

5. Meletupnya sebiji bom adalah dengan izinNya, dan tanya betul-betul di dalam hati, apakah orang-orang Islam yang mendapat ilmu melaksanakannya. Ok lah kata bom itu, sains jahat. Tapi fikirkanlah di zaman Nabi saw dulu, muslim mempunyai design pedang yang tercangih (dibanding pedang yang ada waktu itu semuanya berat .. yang ringan lebih senang digunakan untuk membunuh musuh). Maka ia menjadi salah satu sebab, berkesannya kempen-kempen yang mereka jalankan ke seluruh ceruk rantau.

6. Maka kefahaman secara teliti kepada sains (termasuklah teori Darwin) membawa kita kepada penggunaan Qodo’ dan Qadar (QQ) yang terbaik untuk mendapatkan hasil terbaik dari Allah. Barulah kita dapat mengatasi musuh Allah. Bukan asyik menggunakan sahaja penemuan yang mereka buat. QQ perlu digunakan dengan proaktif (melibatkan ilmu membuat pilihan terbaik sebelum melaksanakan sesuatu) bukan reactif (hanya mengatakan ‘dah takdir’, selepas berlaku sesuatu).

7. Maka bagi menyempurnakan pembelajaran Tauhid Ubudiah, Uluhiah dan Asma Was Sifat, kita perlu mengkaji Tauhid Afal, yang merupakan penelitian kepada Sunnah Allah atau CarakerjanNya. Al Quran menyarankan kita sebagai Muslim menjadi Al Baab, iaitu dengan keluar dari Kitab Al Quran dan masuk ke Kitab Alam, bagi memerhatikan tanda-tanda kekuasaan dan kewujudan Allah. Inilah yang menjadi wawasan utama blog ini. Untuk mengenali Allah dengan cara mengenali SunnahNya.


S027 Percaya atau tidak?

Ogos 14, 2008

Sekitar perbincangan di Blog Sdr Saifuddin.

1. Saya kira banyak lagi jigsaw pieces yang telah sediada, dan sebahgian besarnya telah menghasilkan teknologi atau kemudahan yang kita gunakan sekarang. Jangan kita lupa kenderaan, hand phone, bla bla yang guna setiap hari itu adalah hasil dari kefahaman kepada carakerja Allah iaitu hasil kajian ilmu sains. Hasil penat lelah saintis. Kiranya mereka menipu, secara sedar atau tidak, sudah pasti Sunnah Allah akan menjalankan tugas menidakkannya. Contoh, meletupnya shuttle Nasa adalah kerana berlakunya penipuan (secara tidak sedar) kepada Sunaah Allah.

2. Menjadi evolutionist bermakna kita merancang serapi-rapi nya kehidupan kita, sebagai mana tarbiah Allah dalam AlamNya. Creationist tidak mempunyi mind set begitu. Mereka memperjuangkan berterima kasih kepada Allah tanpa mahu tahu apa yang dia faham tentang perlunya berterima kasih. Sebenarnya mereka Creationist, tak mahu mengkajipun siapa itu Allah hakiki, kerana pada mereak dah dapat, terima kasih sahajalah.

3. Kita bukan tidak mengucapkan terima kasih. Kita cuba memahami secara mendalam kategori terima kasih. Bukan atas dasar satu sen terima kasih, satu juta terima kasih yang sama. Dengan menjadi evolutionist kita meletakkan diri dihadapan kertas putih, melihat ke Alam dan melakar (bukan membuat kelakar) kejadian ciptaan Allah (terima kasih Shiha) dengan betul-betul mahu mengetahui carakerja Allah kerana kita tidak mungkin menemui zat Allah. Lainlah kalau kita kaji Kambing, zatnya ada, jadi tak payah nak susah mengendap kambing buat apa, literally speaking.

4. Saya pernah sentuh bahawa, sikap creationist akhirnya membentuk masyarakaat penerima tongkat. Mental subsidi. Mereka mengharapkan lahir di dunia semua dah ada. Dah siap. Termasuklah Adam dah jadi, sedangkan hakikatnya tidak begitu. Negara dia lahir pun tak ada, kalau tidak kerana orang yang bersikap evolutionist. Negara perlu dibena. Satu konsep yang susah nak diterima generasi baru yang lahir jumpa tikus atas meja. Islam terus ada? Solat terus wajib? Semuanya berevolusi.

5. Kalau kita takutkan evolusi kerana akhirnya perlu berevolusi Islam atau agama nenek moyang kita, itu adalah pemikiran yang salah. Dari dulu kita makan. Masa duduk dalam gua jadi hunter gather kita makan. Dah jadi crocodile hunter pun kita makan. Dalam gua garpu asli, dah duduk gua cement kenalah evolve ke garpu tiruan. Kemajuan kan? Jadi hal makan tak berubah, hal cara makan berubah.

6. Kehidupan itu evolusi. Adaptasi. Yang tidak beadaptasi mati. Pupus. KO. Ya lah memang kadar kepupusannya tak sama. Ada cepat ada lambat, tapi tunggu sahajalah, creastionist akan mati. Sebagaimana matinya Matahari mengeliling Bumi. Memang ramai yang kata, apa mengeliling apa tak perlu, tak berkaitan dengan akidah. Kalau kita berpegang kepada Iman Taklid memang semua tak boleh diubah. Iman pun perlu evolusi kalau tidak iman kita pun mati. Jadi sebelum kita mati, berevolisilah sebelum minda anda mati dulu. Kesian Muslim tanpa minda.


S026 Modern Science finds God

Ogos 13, 2008

There was a time when science seemed to be the enemy of religious belief – that time is no more! Modern physics and cosmology (science of the origin and development of the universe) now provide firm objective evidence of the existence of God, confirm the primary attributes of God, and show how God created the physical existence out of ‘nothingness’. This knowledge comes from a critical analysis of the ‘Big Bang’ theory, Einstein’s Special Theory of Relativity, and work being done in quantum physics. The concepts behind this esoteric scientific knowledge can now be presented in such a way as to be understood by any person with a modern education.

1. We now know according to the most widely accepted theories of cosmology that the physical universe we see today was created out of nothingness (meaning – no time, no space, and no matter).

2. We also know that the beginning of the creation of the universe took place by light coming into existence at a singularity (a point with no dimension).

3. We know that the matter of the physical universe was brought into being by photons (little packages of light energy) which, when colliding with each other, formed the virtually infinite number of protons, neutrons and electrons, which in various combinations make up everything in our physical world.

4. In essence we can now accurately say that all the matter of the physical universe, ourselves included, is actually light slowed down.

5. We know that the space which contains our physical universe is expanding. This is a concept so alien to human thought that until Albert Einstein developed his General Theory of Relativity early in the 20th century it had never occurred to any of the world’s great minds, but was stated in the Qur’an over 1400 years ago when Allah told us, “I am expanding the universe with my power”. Even Einstein was so astounded by his discovery that he falsified his data to show a universe that was not expanding, because he well understood that an expanding universe implies there was somewhere in the distant past a moment of creation for the universe.

6. Einstein’s Special Theory of Relativity (which he actually called his Absolutism Theorem because he realized he had found the one thing in a relative universe that was absolute) is about the special qualities of light.

7. The Special Theory of Relativity allows us our first objective glimpse into that which exists beyond the material world.

8. We could have found anything once we got our first glimpse beyond the material world, but what we did find is indeed remarkable. We find Einstein’s Special Theory of Relativity showing us that the non-material existence beyond the physical world consists only of absolutes, and some of those absolutes are remarkably similar to what everyone’s religion has considered to be among the primary attributes of God.

9. Example One: As the speed of light (300,000km per second) is approached then time slows, and at the speed of light time does not pass. This means for a photon of light which travels at exactly the speed of light, time does not pass. Therefore the photon is outside of time, and ETERNAL.

10. Example Two: Since no time passes for a photon of light, and that photon can be observed at different places in space, therefore that photon of light is simultaneously in those different places (and many other places) at the same time, and therefore OMNIPRESENT.

11. Example Three: Since every bit of matter in the physical universe is created by the energy of light, and that light energy constantly sustains and directs the activity of every bit of matter in the physical existence, then there is no power other than the power of light, light energy is all the power that exists, and therefore OMNIPOTENT.

12. Example Four: Since all knowledge that exists, that ever existed, or will exist, is stored by light energy and transmitted through light energy then there is no knowledge beyond that intrinsic to light, and therefore OMNISCIENT.

13. Furthermore, light does not actually exist within the physical existence although we can somehow perceive it. As you approach the speed of light one of the three dimensions (length, height, or width), the dimension in line with the direction of motion, becomes progressively less, and at the speed of light that dimension becomes zero. To determine volume we multiply height times width times length, but if any one of those three dimensions is zero then the volume is zero, and that thing therefore does not exist in the material universe. Light occupies no volume of space and therefore has no existence in the physical universe.

14. And, while everything in the physical universe has some mass greater than zero, which is a necessary characteristic for existence in the material world, light has no mass at all. As you approach the speed of light mass increases, at the speed of light mass is infinite. Regardless of how tiny the amount of mass you begin with, that mass rises to infinity at the speed of light. Since photons travel at the speed of light and do not reach infinite mass it means that they had zero mass to begin with, and light therefore does not actually exist in the material world.

15. In the physical existence everything is relative, the absolute existence or non-existence of any quality is not and can not be expressed, everything exists between those two extremes of the continuum from absolute expression to absolute non-expression. We find, though, that beyond the material existence all qualities exist either in an infinite state or have no existence at all, there is nothing in between.

The great significance of the above findings is that they destroy any possible notion of the physical universe existing as a fixed number of material particles which are moved about by a fixed set of physical laws. It is exactly this incorrect understanding of the physical existence which forms the basis of the scientific philosophy of materialism. It is the philosophy of materialism, particularly secular materialism, which has allowed the belief in God to be so powerfully challenged by unbelievers in these past few hundred years, more or less from the time of Sir Isaac Newton.

It is no longer intellectually possible nor logically reasonable, in light of the finding of modern physics and cosmology, to hold the view of the atheists (that there is no God). The only logically reasonable, and intellectually honest, conclusion that can be drawn from the findings of modern science is that God does exist, that the attributes of God are absolute, and that God did create the physical universe (including human life). We are presently at the beginning of the transition point from a secular materialistic world-view to a spiritual, God-centered world-view.

NOTE: These are only some of the simplified conclusions of a major work in progress, but we felt they are of such great significance that we had an obligation to offer them to the ummah (the human society of Allah’s Creation). The scientific facts behind these interpretations represent a virtual consensus by a number of the world’s leading physicists, including several Nobel Prize winning theoretical physicists. The interpretations themselves are at the cutting-edge of Islamic theological thought, but have so far been very warmly received by Muslim scholars across the world.

From http://www.islamic-world.net/SNG/Science&God.doc


S025 Komen 1041. Penserasian dan kemajuan.

Ogos 12, 2008

1. Sekurang-kurangnya untuk diri saya, saya meletakan kepentingan proses beradapatasi dan berevolusi itu sebagai satu kemestian di dalam hidup. Kita mungkin menggunakan perkataan yang saintifik dengan mengambil dua perkataan tersebut. Di peringkat kehidupan biasa, tanpa mahu mengaitkan sains di dalam kehidupan, ciri-ciri tesebut masih perlu walaupun nanmanya bukan lagi sesaintifik itu. Menyesuaikan diri kepada persekitaran dan memperbaiki taraf kemajuan diri, mungkin dua pendekatan biasa yang perlu diambillira sebagai prinsip kehidupan.

2. Melatih diri kepada menyesuaikan dan mempertingkat kemajuan diri adalah perlu bukan sahaja untuk menjalani atau mengharungi kehidupan di dunia, malah proses yang sama akan di kehidupan seterusnya, walaupun tema besar kebidupan mungkin berbeza. Seperti yang telah diterangkan sebelum ini, tujuh fasa kehidupan kita, kesemuanya berbeza tema, tetapi tidak dapat dinafikan pendekatan yang perlu dilakukan adalah serupa, dalam ertikata mengabdikan dan ke arah mengenal Tuhan.

3. Sekiranya kita mengambil pendekatan mudah, dengan tidak mahu bersikap positif di Dunia, maka apa yang menghalang sikap yang sama akan terlaksana di alam lain. Sekiranya kita mengambil sikap tunggu dan lihat, apa yang akan menghalang kita bersikap sedemikian di alam seterusnya. Maka seterusnya, dengan mengikut arus perdana di dunia, kita juga akan terbawa-bawa dengan sikap yang sama apabila menjalani kehidupan di alam seterusnya.

4. Adapt dan evolve adalah ciri utama yang dipaparkan dalam Teori Darwin, walaupun ciri tersebut bukanlah hanya terdapat di dalam teori tersebut. Tanpa memahami atau mendalami Teori tersebut, kita masih boleh menggunakan dua ciri tersebut. Apa yang perlu ditekankan di sini ialah, Teori Darwin adalah kajian sainstifik yang menyeluruh, yang memerlukan kita mempiawaikan pemikiran kepada sesuatu yang lebih kukuh asasnya dan terbukti perlaksanaannya.

5. Sdri Ummu mengingatkan kepada perlunya proses adapt dan evolve secara berterusan. Sudah semestinya itu satu usaha kearah kejayaan. Tanpa istiqamah atau pendirian tetap melaksanakan sesuatu, sudah pasti kita tidak dapat melakasanakan kehidupan memperjuangkan sesuatu sehingga ke penghujungnya. Angat-angat tahi ayam, seperti kata pepatah Melayu. Perlu diingat juga, bahawa kegiatan yagn dilakukan mungkin berbeza, tetapi ciri asas pelaksanaan kegiatan itu tidak berubah.

6. Di bawa tajuk penserasian percaya dan fikir ini, suka saya mengingatkan bahawa ianya, iaitu proses percaya, yang secara tradisinya diwarisi dengan berkesan, memerlukan dua ciri yang disebut tadi, iaitu adapt dan evolve. Tanpa fikir, percaya kita akan terus menguasai diri dan menjadi penghalang kepada perkembangan seterusnya. Jadi sebelum kita kehabisan waktu melaksanakan perubahan, perlulah kita fikirkan apakah yang perlu perubahaan kepada warisan percaya kita.

Komen 1041


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.