1. Beradapatasi adalah prosess penyesuaian diri kepada keadaan persekitaran. Tidak pula ia membawa konatasi buruk dengan menjatuhkan harga diri kepada harga pasaran, dengan memastikan jatidiri dipupuk dan dibaja oleh ilmu pengetahuan. Keseimbangan menimbangan keperluan adalah jawapan kepada perluanya kita kepada beradaptasi. Contoh paling kerata yang saya perjuangkan ialah bagaimana kita beradapatasi ke arah mengenal Allah hakiki di dalam arus perdana yang hanya mengenal Allah melalui percaya. Maka kita perlu berilmu untuk beradapatasi dan bayangkan contoh-contoh yang ada di zaman lampau seperti beradaptasinya N Ibrahim dengan bapanya seorang ketua pembuat berhala dan juga kemudiannya N Muhammad saw, beradapati di dalam suasana arus perdana jahiliah.
2. Maka adakah Nabi saw mati kebuluran hanyut bersama jahiliah dalam memperjuangkan jatidirinya? Tidak sekali-kali, dan inilah adapatasi yang dimaksudkan. Nabi masih menjadi ahli perniagaan di suasana persekitaran jahiliah. Berniaga dengan jahiliah, bermain dengan jahiliah, berinteraksi dengan jahiliah, hidup di tengah-tengah disayang dan dicintai jahiliah. Bapak saudaranya nabi paling suka dengannya tetapi tidak mahu menerima Islam yang dibawanya. Maka adaptasi bagaimanyang nabi perlukan? Setelah beberapa tahun mengembangkan Islam beliau terpaksa berhijrah kepada suasana baru. Ini juga digarisbawahi oleh keperluan kepada beradaptasi atau menyesuaikan cara kepada tujuan perjuangan aga yang diazam tercapai walaupun keadaan sekeliling tidak kundusif untuk berkembang.
3. Maka apa terjadi kepada Muslim sekarang ini, bila diarah berniaga, kita memberikan alasan terlalu kapatilis suasana sekarang. Itu haram ini tak boleh. Ke sana tersepit dan ke sini terbeban. Semua ini memerlukan pengadaptasian atau penyesuan mindset ke arah yang praktikal, yang akan membawa kita mengharungi keadaan yang tidak kita rasakan sesuai unutk menjadi sesuai kepada prinsip yang kita bena di dalan jiwa.
4. Keseluruhan pembenaan blog ini adalah proses beradapatasi kepada suasana arus perdana, yang terlalu mementingkan Fardu Ain, maaf kata mementingkan diri. Kita tidak sedar pengajaran FA tidak membantu sasiah Muslim kerana tiada kefahaman kepada solat untuk apa, kyusuk untuk apa, beribadah untuk apa, dan pelbagai persoalan peribadatan yang hanya dibuat mengikut rasa. Maka kita perlu beradapatasi. Dan apa lagi cara yang paling terbaik kalau tidak melihat kepada Alam Allah dan belajar dari carakerja Allah membentuk Alam ke arah kesempurnaan. Theory of evolution. Jangan kita pentingkan atau sensasikan pasal kambing makan rumput dan kita makan salad (sayur) maka kita saudara kambing?
5. Beradapatasi yang perlu sangat kita lalukan adalah memahami keutamaan Sunnah Allah di atas Sunnah Rasul. Memahami keutmaan Fardu Kifayah berbanding Fardu Ain. Ini yang susah. Kita diajar dari kecil sebaliknya dan hasilnya semua Muslim melaksanakan ibadah tetapi hanya mendapat penat kerja yang tidak menentu. Apakah yang diperolehi oleh Muslim dari ibadah solat sekarang? dengan hasil yang jelas Muslim termundur di segala bidang, pelajaran, kewangan, dan segalanya. Maka beradapatsailah kita dengan mengunakan akal. Carilah jawapannya di Al Quran dan apa yang saya nampak hanyalah dengan menggunakan pendekatan atau manhaj Ulil Al Baab, iaitu membuktikan adanya kewujudan dan kekuasaan Allah dengan melihat kepada adanya kejadian Alam sekeliling.
Ogos 11, 2008 at 6:06 am |
Yang pertama, dengan memperhatikan ayat-ayat kauniyah dalam bentuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang tampak pada alam raya ini dan yang ada pada organ tubuh kita ini. Al Qur’an membimbing kita untuk menggunakan akal pikiran dalam memahami bukti-bukti kebesaran dan keagungan Allah yang ada di alam raya ini dan bahkan di diri kita.
Allah Ta’ala berfirman :
“Kami akan tunjukkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan kami di segala penjuru alam dan di diri mereka sendiri, sehingga menjadi jelas bagi mereka bahwa Allah itu adalah benar adanya. Tidakkah cukup bahwa Tuhanmu itu mempersaksikan atas segala sesuatu” (Fushilat : 53)
Yang kedua, dengan memperhatikan dan memahami ayat-ayat Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wa Sallam yang shohih yang menerangkan tentang sifat-sifat Allah dan membimbing kita untuk meyakini adanya sifat-sifat Allah itu sesuai dengan apa yang tertera dalam berita-berita tentang sifat Allah tersebut. Tanpa menyerupakan sifat-sifat itu dengan sifat-sifat makhluq yang manapun dan tidak pula menafikan sifat-sifat yang telah di beritakan oleh Allah dan Rasul Nya itu, dan juga tidak menyimpangkan makna ayat-ayat Qur’an dan Hadits-hadits Nabi shollallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wa Sallam yang memberitakan tentang sifat-sifat Allah itu kepada makna lain hanya karena merujuk kepada pertimbangan akal dan pikiran semata. Maka Allah Ta’ala telah memberitakan tentang dirinya dengan berbagai sifat-sifat Dzatiyah (sifat-sifat yang ada pada DzatNya dan tidak berkaitan dengan makhluq) dan Fi’liyah (sifat-sifat Allah yang berkaitan dengan makhluq).
Dari http://www.alghuroba.org/forum/viewtopic.php?t=28
Ogos 11, 2008 at 6:13 am |
Bukti Bukti Nyata Tentang Akidah Manunggaling Kawula Gusti Di Tubuh Kaum Sufi
Hal ini dapat dilihat dari ucapan para tokoh legendaris dan pendahulu sufi seperti Al Hallaj, Ibnul Faridh, Ibnu Sabi’in dan masih banyak lagi yang lainnya di dalam karya-karya mereka. Cukuplah dengan ini sebagai saksi atas kebenaran bukti-bukti tadi.
1. Al Hallaj berkata:
“Maha suci Dia yang telah menampakkan sifat naasuut (insaniyah)-Nya lalu muncullah kami sebagai laahuut (ilahiyah)-Nya
Kemudian Dia menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam wujud orang yang makan dan minum
Sehingga makhluk-Nya dapat melihat-Nya dengan jelas seperti pandangan mata dengan pandangan mata” (Ath Thawaasin hal. 129)
“Aku adalah Engkau (Allah) tanpa adanya keraguan lagi
Maha suci Engkau Maha suci aku Mengesakan Engkau berarti mengesakan aku
Kemaksiatan kepada-MU adalah kemaksiatan kepadaku
Marah-Mu adalah marahku Pengampunan-Mu adalah pengampunanku “
(Diwanul Hallaj hal. 82)
“Kami adalah dua ruh yang menitis jadi satu
Jika engkau melihatku berarti engkau melihat-Nya
Dan jika engkau melihat-Nya berarti yang engkau lihat adalah kami” (Ath Thawaasin hal. 34)
2. Ibnu Faridh berkata dalam syairnya:
Tidak ada shalat kecuali hanya untukku
Dan shalatku dalam setiap raka’at bukanlah untuk selainku. (Tanbih Al Ghabi fi Takfir Ibnu Arabi hal. 64)
3. Abu Yazid Al Busthami berkata:
”Paling sempurnanya sifat seseorang yang telah mencapai derajat ma’rifat adalah adanya sifat-sifat Allah pada dirinya. (Demikian pula) sifat ketuhanan ada pada dirinya.” (An Nuur Min Kalimati Abi Thaifut hal. 106 karya Abul Fadhl Al Falaki)
Maka diapun mengungkapkan keheranannya dengan berujar: “Aku heran kepada orang-orang yang mengaku mengenal Allah, bagaimana mereka bisa beribadah kepada-Nya?!
Lebih daripada itu, dia menuturkan pula akidah ini kepada orang lain tatkala seseorang datang dan mengetuk rumahnya. Dia bertanya: “Siapa yang engkau cari? Orang itu menjawab: “Abu Yazid.” Diapun berkata: “Pergi! Tidaklah yang ada di rumah ini kecuali Allah.” (An Nuur hal. 84)
Pada hal. 110 dia pernah ditanya tentang perihal tasawuf maka dia menjawab: “Sifat Allah telah dimiliki oleh seorang hamba”.
Akidah Manunggaling Kawula Gusti membawa kaum sufi kepada keyakinan yang lebih rusak yaitu wihdatul wujud. Berarti tidak ada wujud kecuali Allah itu sendiri, tidak ada dzat lain yang tampak dan kelihatan ini selain dzat yang satu, yaitu dzat Allah.
Ibnu Arabi berkata:
Tuhan itu memang benar ada dan hamba itu juga benar ada
Wahai kalau demikian siapa yang di bebani syariat?
Bila engkau katakan yang ada ini adalah hamba, maka hamba itu mati
Atau (bila) engkau katakan yang ada ini adalah Tuhan lalu mana mungkin Dia dibebani syariat? (Fushulul Hikam hal. 90)
Penyair sufi bernama Muhammad Baharuddin Al Baithar berkata: “Anjing dan babi tidak lain adalah Tuhan kami Allah itu hanyalah pendeta yang ada di gereja” (Suufiyat hal. 27)
Dalil-Dalil Yang Dijadikan Kaum Sufi Sebagai Penopang Akidah Manunggaling Kawula Gusti
Dari http://blumewahabi.wordpress.com/firqah-sesat/sufi-atau-tasawuf/aqidah-sufi-atau-tasawuf/
Ya Allah ampunilah mereka ini …
Ogos 12, 2008 at 6:36 am |
What Makes Crossroads Institute Philosophy Distinctive?
We acknowledge that the mind-body connection is a self-healing, self-regulating system. We believe that by stimulating this ability proper function can be restored.
The mind-body connection operates under biological and mechanical laws therefore treatment must be designed according to these laws.
We know that each type of brain wave and its characteristic number of cycles is responsible for the mind-body connection.
We look beyond the label for the cause.
Every individual is unique. Therefore, multiple modalities must be used in order to design a program specific to the individual.
We gain understanding of the emerging person and their difficulties by using FDA approved diagnostic tools and standardized multiple assessments.
We assist the person to go beyond the challenge.
Integration is learned through proper mentoring and guidance.
Dari http://www.crossroadsinstitute.org/crphil2.html
Ogos 12, 2008 at 6:42 am |
#3 saifuddin Says:
August 12th, 2008 at 5:56 am
“Agama tidak tertegak dengan logik akal”
Mungkin komen ni agak terkeluar, tapi kadangkala saya terfikir apa perlunya menegakkan agama dengan akal, atau istilah semasa, sains. Malahan fikiran ni menerawang jauh pula sehingga membisik bahawa agama memang sangat perlu dipisahkan dengan sains.
Saya berfikiran sedemikian kerana basis Islam itu sendiri adalah scientifically illogical, mengapa kita mahu mengaitkan ayat-ayat Quran dengan penemuan semasa kononnya hendak mengatakan Islam itu logik? Sebagai contoh soal beriman dengan Allah, malaikat, qadha qadar. Kesemuanya ini adalah di luar batasan sains untuk kita mengkajinya, maka sekiranya perkara asas pun sudah mustahil (pada akal), apatah lagi perkara selepasnya.
Dalam Islam juga kita sebut ‘beriman’, iaitu yakin tanpa ada bukti dan banyak soal. Kita yakin Allah wujud tapi kita tiada bukti Allah itu wujud. Maka itu kita sebut beriman dengan Allah. Dan disebut juga beriman dengan Kitab. Dengan kata lain, sama ada Kitab itu bercanggah dengan sains, diamkan sahaja, prinsipnya ‘beriman’. Sebaliknya sains adalah kajian yang berdasarkan evidence based. Kita yakin dengan sains setelah ada bukti. Justeru adakah agama dan sains ini harus dan perlu diserasikan? Keduanya tampak jauh berbeza.
Sekiranya kita mampu men’saintifik’kan Islam sekalipun, tetap akan berlaku pertikaian. Kalau kita mengatakan Al-Quran itu saintifik, bukankah penurunan Al-Quran itu tidak saintifik (sekiranya memahami Malaikat itu secara literal adalah malaikat)? Sekiranya kita mengatakan solat itu sangat saintifik, bagaimana pula perintah solat diturunkan? Bukankah dengan peristiwa Israk Mikraj yang tidak saintifik? Bukankah Israk Mikraj itu bertujuan untuk menguji umatnya? Kalaulah Islam itu logik, mengapa pula Allah mahu menguji umatnya dengan perkara tidak logik?
Dengan argumen inilah saya kadangkala terfikir bahawa Islam dan sains memang sangat perlu dipisahkan. Prinsip Islam sangat jauh berbeza dengan sains, percaya dulu baru lihat berbanding lihat baru percaya. Mengaitkan agama dengan sains tidak lebih akan mencaca-merbakan agama dan sains itu sendiri.
Wallahua’alam. Ini cuma fikiran saya dan saya tidak sedikit pun bersetuju dengan fikiran ni. Tapi saya tak tau bagaimana nak sangkal.
Dari http://saifulislam.com/?p=2479#comment-30233
Ogos 13, 2008 at 9:50 am |
Ibnu Babawaih Al Qummi, salah seorang ulama besar syi’ah, mengatakan: kami meyakini bahwa taqiyah adalah wajib, siapa yang meninggalkannya sama seperti meninggalkan shalat. [Al I’tiqadat hal 114]
Begitulah, taqiyah yang berarti menipu dijadikan sebagai ajaran agama yang dapat mendekatkan diri pada Allah, bahkan menipu ini menjadi 90% dari agama, ini artinya orang yang selalu berbohong dan menipu dalam ucapan dan perbuatannya setiap hari maka telah melakukan 90% ajaran agama.
Celakanya lagi, menipu seperti ini bukan hanya ajaran dari seorang imam saja, bahkan telah menjadi agama seluruh keluarga Nabi, termasuk di dalamnya Nabi sendiri, seperti tercantum dalam riwayat mereka, akan lain persoalannya jika para imam tidak mengaitkan ajaran itu dengan ajran Nabi, dan menganggap ajaran agama mereka bukan agama yang dibawa oleh Nabi, inilah yang kita pahami dari ucapan imam syi’ah: [dan agama kakek kakek saya].
Apakah ad orang berakal yang dapat menerima hal ini dan menganggap taqiyah atau menipu adalah ajaran Allah yang diturunkan untuk memperbaiki akhlak dan menanamkan nilai kejujuran, sikap terus terang dan memperlakukan manusia dengan jujur, dalam perilaku manusia agar kehidupan menjadi tenteram dan berkembang dalam kerangka amanat, kejujuran dan terus terang?
Dari http://azwarti.wordpress.com/2008/08/06/mengapa-imam-syi%e2%80%99ah-harus-menyembunyikan-kebenaran/#more-2135
September 8, 2008 at 1:55 am |
Barbara Surk Madinat Zayed
April 10, 2008
DUBAI’S crown prince has bought a camel for a record $A2.9 million during a desert festival in the emirate of Abu Dhabi.
Sheikh Hamdan bin Mohammed bin Rashid al-Maktoum, the son of Dubai’s ruler, Sheikh Mohammed, and his heir apparent, bought 16 camels for $A4.8 million during a camel beauty pageant taking place during a desert carnival that aims to preserve the nomadic way of life in the oil-rich Gulf.
Sheik Hamdan paid $2.92 million for one camel, the Emirates’ state news agency reported yesterday. It gave no details on the camel.
More than 17,000 camels from the oil-rich Gulf countries — the Emirates, Saudi Arabia, Oman, Qatar and Bahrain — were registered for a camel beauty contest taking place over two weeks in the Emirates’ western desert.
Dari http://www.theage.com.au/news/world/dubais-prettiest-camels-glam-up/2008/04/09/1207420486608.html