<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komen bagi: R80 Kitab &#8221;KimyauSaadah&#8221; oleh Al Ghazali.</title>
	<atom:link href="http://sharudin.com/2008/08/19/r80-kitab-kimyausaadah-oleh-al-ghazali/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sharudin.com/2008/08/19/r80-kitab-kimyausaadah-oleh-al-ghazali/</link>
	<description>Falsafah carakerja Khaliq</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2012 07:18:59 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<item>
		<title>Oleh: ivjnvahzb</title>
		<link>http://sharudin.com/2008/08/19/r80-kitab-kimyausaadah-oleh-al-ghazali/#comment-30319</link>
		<dc:creator><![CDATA[ivjnvahzb]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 17:50:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sharudin.wordpress.com/?p=433#comment-30319</guid>
		<description><![CDATA[XbK4tJ  &lt;a href=&quot;http://axwvdnvntiiu.com/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;axwvdnvntiiu&lt;/a&gt;]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>XbK4tJ  <a href="http://axwvdnvntiiu.com/" rel="nofollow">axwvdnvntiiu</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: xhqggywp</title>
		<link>http://sharudin.com/2008/08/19/r80-kitab-kimyausaadah-oleh-al-ghazali/#comment-30108</link>
		<dc:creator><![CDATA[xhqggywp]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 16:34:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sharudin.wordpress.com/?p=433#comment-30108</guid>
		<description><![CDATA[7A9CU2  &lt;a href=&quot;http://cxadbzihsznh.com/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;cxadbzihsznh&lt;/a&gt;]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>7A9CU2  <a href="http://cxadbzihsznh.com/" rel="nofollow">cxadbzihsznh</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Reggie</title>
		<link>http://sharudin.com/2008/08/19/r80-kitab-kimyausaadah-oleh-al-ghazali/#comment-30019</link>
		<dc:creator><![CDATA[Reggie]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 04:07:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sharudin.wordpress.com/?p=433#comment-30019</guid>
		<description><![CDATA[I appreciate you tainkg to time to contribute That&#039;s very helpful.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>I appreciate you tainkg to time to contribute That&#8217;s very helpful.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: P981 Sim/Em/Tak-pati Pencerobohan &#171; Keluarga Sharif Yamah</title>
		<link>http://sharudin.com/2008/08/19/r80-kitab-kimyausaadah-oleh-al-ghazali/#comment-19841</link>
		<dc:creator><![CDATA[P981 Sim/Em/Tak-pati Pencerobohan &#171; Keluarga Sharif Yamah]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Jun 2011 04:32:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sharudin.wordpress.com/?p=433#comment-19841</guid>
		<description><![CDATA[[...] tinker and create and modify things (or consepts)&#8221; bagaimana Alam dan Pencipta Alam bekerja. Untuk mencapai ma’rifat, al-Ghazali menjelaskan tentang langkah-langkahnya: Pertama, syak (ragu-ragu atau skeptis). [...]]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] tinker and create and modify things (or consepts)&#8221; bagaimana Alam dan Pencipta Alam bekerja. Untuk mencapai ma’rifat, al-Ghazali menjelaskan tentang langkah-langkahnya: Pertama, syak (ragu-ragu atau skeptis). [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Haf</title>
		<link>http://sharudin.com/2008/08/19/r80-kitab-kimyausaadah-oleh-al-ghazali/#comment-2210</link>
		<dc:creator><![CDATA[Haf]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 09:01:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sharudin.wordpress.com/?p=433#comment-2210</guid>
		<description><![CDATA[Sekadar memberi pandangan..betulkan saya kalau tersilap.

Dari segi syriat mengenal Allah tidaklah diwajibkan tetapi dgalakkan. Ini kerana sekiranya syariat dijalankan dengan yakin , ikhlas dan redha tetap diterima Allah amalanya berdasarkan firman Allah di dalam surah Al-Maeda(5:85)

&quot;Lalu Allah memberikan pahala kepada mereka disebabkan (pengakuan iman yang ikhlas) yang telah mereka ucapkan, (iaitu mereka dibalas dengan) Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; mereka pula tetap kekal di dalamnya. Dan yang demikian itu, adalah balasan orang-orang yang berusaha berbuat kebaikan.&quot;

Namun begitu, kiranya kita mengenal Allah, maka kita akan lebih faham akan suruhannya dan larangannya dan secara tidak langsung menjadikan amalan yang kita lakukan lebih lazat. 

Menuntut ilmu adalah fardhu bagi semua umat islam. Jika dihuraikan pengertian ilmu, amat dalam sekali.

Dari http://www.iluvislam.com/v1/forum/viewthread.php?forum_id=98&amp;thread_id=5282&amp;pid=70985#post_70985]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sekadar memberi pandangan..betulkan saya kalau tersilap.</p>
<p>Dari segi syriat mengenal Allah tidaklah diwajibkan tetapi dgalakkan. Ini kerana sekiranya syariat dijalankan dengan yakin , ikhlas dan redha tetap diterima Allah amalanya berdasarkan firman Allah di dalam surah Al-Maeda(5:85)</p>
<p>&#8220;Lalu Allah memberikan pahala kepada mereka disebabkan (pengakuan iman yang ikhlas) yang telah mereka ucapkan, (iaitu mereka dibalas dengan) Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; mereka pula tetap kekal di dalamnya. Dan yang demikian itu, adalah balasan orang-orang yang berusaha berbuat kebaikan.&#8221;</p>
<p>Namun begitu, kiranya kita mengenal Allah, maka kita akan lebih faham akan suruhannya dan larangannya dan secara tidak langsung menjadikan amalan yang kita lakukan lebih lazat. </p>
<p>Menuntut ilmu adalah fardhu bagi semua umat islam. Jika dihuraikan pengertian ilmu, amat dalam sekali.</p>
<p>Dari <a href="http://www.iluvislam.com/v1/forum/viewthread.php?forum_id=98&#038;thread_id=5282&#038;pid=70985#post_70985" rel="nofollow">http://www.iluvislam.com/v1/forum/viewthread.php?forum_id=98&#038;thread_id=5282&#038;pid=70985#post_70985</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sha</title>
		<link>http://sharudin.com/2008/08/19/r80-kitab-kimyausaadah-oleh-al-ghazali/#comment-2191</link>
		<dc:creator><![CDATA[Sha]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 20:18:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sharudin.wordpress.com/?p=433#comment-2191</guid>
		<description><![CDATA[Untuk mencapai ma’rifat, al-Ghazali menjelaskan tentang langkah-langkahnya: Pertama, syak (ragu-ragu atau skeptis). Menurutnya, sikap ragu-ragu dapat mendorong seseorang untuk mencari kebenaran yang sejati. Ia mengatakan:
من لن يشك لم ينظر ومن لم ينظر لم يبصر ومن لم يبصر بقي فى العمى والضلال
“Barangsiapa tidak pernah mengalami keragu-raguan, maka dia tidak akan pernah berfikir. Barangsiapa tidak berfikir, maka dia tidak akan bisa melihat (kebenaran). Dan barangsiapa yang tidak bisa melihat, maka dia akan tetap berada dalam kebutaan dan kesesatan.” 

Dari http://peziarah.wordpress.com/2007/03/07/al-ghazali/]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk mencapai ma’rifat, al-Ghazali menjelaskan tentang langkah-langkahnya: Pertama, syak (ragu-ragu atau skeptis). Menurutnya, sikap ragu-ragu dapat mendorong seseorang untuk mencari kebenaran yang sejati. Ia mengatakan:<br />
من لن يشك لم ينظر ومن لم ينظر لم يبصر ومن لم يبصر بقي فى العمى والضلال<br />
“Barangsiapa tidak pernah mengalami keragu-raguan, maka dia tidak akan pernah berfikir. Barangsiapa tidak berfikir, maka dia tidak akan bisa melihat (kebenaran). Dan barangsiapa yang tidak bisa melihat, maka dia akan tetap berada dalam kebutaan dan kesesatan.” </p>
<p>Dari <a href="http://peziarah.wordpress.com/2007/03/07/al-ghazali/" rel="nofollow">http://peziarah.wordpress.com/2007/03/07/al-ghazali/</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sha</title>
		<link>http://sharudin.com/2008/08/19/r80-kitab-kimyausaadah-oleh-al-ghazali/#comment-2184</link>
		<dc:creator><![CDATA[Sha]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 18:10:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sharudin.wordpress.com/?p=433#comment-2184</guid>
		<description><![CDATA[Apa benar dunia dan harta itu harus di hindari ?

Orang memandang bahwa yang disebut Dunia ya bumi dan segala isinya ini yaitu mobil, rumah, rupiah, istri, anak, hp, televisi, ancol, dll. Padahal pengertian dunia menurut pandangan Al-Ghozali seperti yang tertuang dalam Minhajul Tholibin adalah dunia = sesuatu yang tidak bermanfaat untuk Akhirat. Tidak disebut dunia segala aktivitas yang bermanfaat untuk akhirat. Dari pengertian itu, maka jelas bahwa pengertian dunia yang seperti kebanyakan orang pahami sekarang beda 180 derajad dengan para ulama Islam terdahulu. Padahal masa Imam Al-Ghozali, pengaruh2 filsafat Yunani dan Hindia sudah begitu merasuk, namun pemahaman terhadap makna dunia yang dicela masih tetap terjaga.

Jelas sekali pengertian dunia kebanyakan kita sekarang juga akibat filsafat hindu yang memisahkan dunia roh (arwah) dan dunia manusia (dunia). Walhasil, kekeliruan memahami dunia ini menjadi faktor yang menyebabkan manusia males nyemplung ke dunia atau kalau mau nyemplung ya nyemplung saja sekalian tanpa aturan agama + cukup bertobat setelah maksiat, diulang dan diulang terus.

Dari http://dnuxminds.wordpress.com/2007/07/11/akibat-kesalahan-memamahi-ruh-dan-dunia-menghindari-dunia-atau-malah-kecebur-basah/]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Apa benar dunia dan harta itu harus di hindari ?</p>
<p>Orang memandang bahwa yang disebut Dunia ya bumi dan segala isinya ini yaitu mobil, rumah, rupiah, istri, anak, hp, televisi, ancol, dll. Padahal pengertian dunia menurut pandangan Al-Ghozali seperti yang tertuang dalam Minhajul Tholibin adalah dunia = sesuatu yang tidak bermanfaat untuk Akhirat. Tidak disebut dunia segala aktivitas yang bermanfaat untuk akhirat. Dari pengertian itu, maka jelas bahwa pengertian dunia yang seperti kebanyakan orang pahami sekarang beda 180 derajad dengan para ulama Islam terdahulu. Padahal masa Imam Al-Ghozali, pengaruh2 filsafat Yunani dan Hindia sudah begitu merasuk, namun pemahaman terhadap makna dunia yang dicela masih tetap terjaga.</p>
<p>Jelas sekali pengertian dunia kebanyakan kita sekarang juga akibat filsafat hindu yang memisahkan dunia roh (arwah) dan dunia manusia (dunia). Walhasil, kekeliruan memahami dunia ini menjadi faktor yang menyebabkan manusia males nyemplung ke dunia atau kalau mau nyemplung ya nyemplung saja sekalian tanpa aturan agama + cukup bertobat setelah maksiat, diulang dan diulang terus.</p>
<p>Dari <a href="http://dnuxminds.wordpress.com/2007/07/11/akibat-kesalahan-memamahi-ruh-dan-dunia-menghindari-dunia-atau-malah-kecebur-basah/" rel="nofollow">http://dnuxminds.wordpress.com/2007/07/11/akibat-kesalahan-memamahi-ruh-dan-dunia-menghindari-dunia-atau-malah-kecebur-basah/</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sha</title>
		<link>http://sharudin.com/2008/08/19/r80-kitab-kimyausaadah-oleh-al-ghazali/#comment-1993</link>
		<dc:creator><![CDATA[Sha]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 14:47:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sharudin.wordpress.com/?p=433#comment-1993</guid>
		<description><![CDATA[Kata “tajali” (At.: tajalli) merupakan istilah tasawuf yang berarti ”penampakan diri Tuhan yang bersifat absolute (tersendiri tanpa serta dengan sesuatu ujud/ Tunggal/ Esa/ Tiada ujud makhluk walau pun sezarrah) dalam bentuk alam/perasaan semata2.( UJUD yang hanya tergambar pada daerah minda sahaja tetapi seolah ujud ada ‘diluar’ minda)

Istilah ini berasal dari kata tajalla atau yatajalla, yang artinya “menyatakan diri”.
Konsep tajali melimpah dari pandangan bahwa Allah Swt dalam kesendirian-Nya (sebelum ada alam fatasi sifatNya) ingin melihat ‘KedirianNya’ . Karena itu seolah2 ‘dijadikan’Nya alam ini, walhal alam adalah sifat ‘KEDIRIAN NYA’.

Dari http://maskbrain.blogspot.com/2008/08/tajalli-konsep-nur-muhammad.html]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kata “tajali” (At.: tajalli) merupakan istilah tasawuf yang berarti ”penampakan diri Tuhan yang bersifat absolute (tersendiri tanpa serta dengan sesuatu ujud/ Tunggal/ Esa/ Tiada ujud makhluk walau pun sezarrah) dalam bentuk alam/perasaan semata2.( UJUD yang hanya tergambar pada daerah minda sahaja tetapi seolah ujud ada ‘diluar’ minda)</p>
<p>Istilah ini berasal dari kata tajalla atau yatajalla, yang artinya “menyatakan diri”.<br />
Konsep tajali melimpah dari pandangan bahwa Allah Swt dalam kesendirian-Nya (sebelum ada alam fatasi sifatNya) ingin melihat ‘KedirianNya’ . Karena itu seolah2 ‘dijadikan’Nya alam ini, walhal alam adalah sifat ‘KEDIRIAN NYA’.</p>
<p>Dari <a href="http://maskbrain.blogspot.com/2008/08/tajalli-konsep-nur-muhammad.html" rel="nofollow">http://maskbrain.blogspot.com/2008/08/tajalli-konsep-nur-muhammad.html</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Haf</title>
		<link>http://sharudin.com/2008/08/19/r80-kitab-kimyausaadah-oleh-al-ghazali/#comment-1964</link>
		<dc:creator><![CDATA[Haf]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 04:23:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sharudin.wordpress.com/?p=433#comment-1964</guid>
		<description><![CDATA[Seterusnya berkata lagi Syeikh Daud Bin Abdullah Al-Fathony ;

&quot; Kata Imam Syafie ; Barangsiapa yang meninggalkan empat perkara ini sempurna imannya, dan iaitu (kam ),dan (kaif), dan (mata), dan (aina), maka adapun (kam) maka dinyatakan dengan dia menuntut kenyataan bilangan maka jika dikata orang ; Kamillah ? Yakni “ berapa Allah?” maka jawab olehmu : iaitu wahid yakni Esa pada zatNya dan pada sifat-sifatNya dan pada perbuatanNya. Dan (kaif) iaitu ditanya dengan dia daripada kaifiat maka jika ditanya orang : kaifallah? Yakni “ betapa Allah (bagaimana rupa Allah?)&quot; maka jawab olehmu ; tiada mengetahui seseorang akan hakikat zat Allah melainkan Ia jua. Dan (mata) itu tiada dengan dia daripada zaman (masa) maka jika dikata orang : Matallah? Artinya ; manakala didapati Allah? (bilakan Allah Taala wujud?) maka jawab oleh mu : Allah Taala itu awalnya tiada permulaan dan akhir tiada kesudahan. Dan (aina) dan tiada dengan dia daripada makan (tempat), maka jika dikata orang : Ainallah?[7] (di mana Allah?) maka jawab oleh mu : Allah itu tiada bertempat dan tiada dilalu atasnya masa kerana zaman (masa) dan makan (tempat) baharu keduanya. 

Bermula Allah taala itu Qadim dan yang Qadim tiada berdiri dengan yang baharu dan barangsiapa yang menyerupakan Allah , Tuhan yang bersifat dengan Rahman dengan suatu maka tiada syak pada kufurnya. Maka takut olehmu akan diri kamu dan pelihara akan dia daripada menyerupa ia akan Allah dengan suatu bahagi daripada bahagi yang baharu ini maka demikian itu kufur. Dan sungguhnya wajib bagi Allah itu mukhalafah (bersalahan) bagi segala yang baharu kerana bahawasanya jikalau menyama ia akan dia nescaya adalah baharu seumpamanya. Dan telah terdahulu pada burhan wajib qidamnya dan baqa’nya dan wajiblah ia bersifat Mukhalafatuhu Lil Hawwaditsi, dan apabila sabitlah baginya Mukhalafatuhu Lil Hawwaditsi nescaya nafilah daripadanya Mumatsilah Lil Hawaditsi ( bersamaan Allah pada segala yang baharu). Selesai nukilan penulis (abu lahyah) daripada Kitab Al-Jauhar As-Saniyyah Fi Syarhi Al-‘Aqoid Al-Diniyyah Wa Ahkam Al-Fiqhi Al-Mardhiyyah Wa Thoriqi Al-Suluki Al-Muhammadiyyah”[8]

Dari http://abulehyah.blogspot.com/2008/08/syeikh-daud-bin-abdullah-al-fathony.html]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Seterusnya berkata lagi Syeikh Daud Bin Abdullah Al-Fathony ;</p>
<p>&#8221; Kata Imam Syafie ; Barangsiapa yang meninggalkan empat perkara ini sempurna imannya, dan iaitu (kam ),dan (kaif), dan (mata), dan (aina), maka adapun (kam) maka dinyatakan dengan dia menuntut kenyataan bilangan maka jika dikata orang ; Kamillah ? Yakni “ berapa Allah?” maka jawab olehmu : iaitu wahid yakni Esa pada zatNya dan pada sifat-sifatNya dan pada perbuatanNya. Dan (kaif) iaitu ditanya dengan dia daripada kaifiat maka jika ditanya orang : kaifallah? Yakni “ betapa Allah (bagaimana rupa Allah?)&#8221; maka jawab olehmu ; tiada mengetahui seseorang akan hakikat zat Allah melainkan Ia jua. Dan (mata) itu tiada dengan dia daripada zaman (masa) maka jika dikata orang : Matallah? Artinya ; manakala didapati Allah? (bilakan Allah Taala wujud?) maka jawab oleh mu : Allah Taala itu awalnya tiada permulaan dan akhir tiada kesudahan. Dan (aina) dan tiada dengan dia daripada makan (tempat), maka jika dikata orang : Ainallah?[7] (di mana Allah?) maka jawab oleh mu : Allah itu tiada bertempat dan tiada dilalu atasnya masa kerana zaman (masa) dan makan (tempat) baharu keduanya. </p>
<p>Bermula Allah taala itu Qadim dan yang Qadim tiada berdiri dengan yang baharu dan barangsiapa yang menyerupakan Allah , Tuhan yang bersifat dengan Rahman dengan suatu maka tiada syak pada kufurnya. Maka takut olehmu akan diri kamu dan pelihara akan dia daripada menyerupa ia akan Allah dengan suatu bahagi daripada bahagi yang baharu ini maka demikian itu kufur. Dan sungguhnya wajib bagi Allah itu mukhalafah (bersalahan) bagi segala yang baharu kerana bahawasanya jikalau menyama ia akan dia nescaya adalah baharu seumpamanya. Dan telah terdahulu pada burhan wajib qidamnya dan baqa’nya dan wajiblah ia bersifat Mukhalafatuhu Lil Hawwaditsi, dan apabila sabitlah baginya Mukhalafatuhu Lil Hawwaditsi nescaya nafilah daripadanya Mumatsilah Lil Hawaditsi ( bersamaan Allah pada segala yang baharu). Selesai nukilan penulis (abu lahyah) daripada Kitab Al-Jauhar As-Saniyyah Fi Syarhi Al-‘Aqoid Al-Diniyyah Wa Ahkam Al-Fiqhi Al-Mardhiyyah Wa Thoriqi Al-Suluki Al-Muhammadiyyah”[8]</p>
<p>Dari <a href="http://abulehyah.blogspot.com/2008/08/syeikh-daud-bin-abdullah-al-fathony.html" rel="nofollow">http://abulehyah.blogspot.com/2008/08/syeikh-daud-bin-abdullah-al-fathony.html</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sha</title>
		<link>http://sharudin.com/2008/08/19/r80-kitab-kimyausaadah-oleh-al-ghazali/#comment-1950</link>
		<dc:creator><![CDATA[Sha]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 22:18:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sharudin.wordpress.com/?p=433#comment-1950</guid>
		<description><![CDATA[Imamuna Al-Ghazali menyebut 3 Perkara yg menjadi sebab kpd KUFURnya ahli falsafah Islam di dalam kitab tahafut al-falasifah;

1) Mengatakan alam ini qadim.
2) Allah Ta&#039;ala hanya mengetahui perkara2 yg kulliyat (umum) dan tidak mengetahui perkara yg juziyyat (kecil2).
3) Manusia dibangkitkan dengan roh sahaja tanpa jasad pada hari kiamat.

Kesimpulan ;

Ilmu falsafah boleh menjadi SAMPAH jika tidak didasari dengan al-Quran dan as-Sunnah. Disarankan supaya mendalami ilmu aqidah terlebih dahulu supaya tidak tergelincir dari landasan ahli sunnah wal jamaah. Dan ilmu falsafah boleh menjadi PERMATA yg tidak ada nilainya jika kita menemui jalan yg benar dalam memahaminya seperti yg difahami oleh al-Ghazali..

Dari http://www.iluvislam.com/v1/forum/viewthread.php?forum_id=131&amp;thread_id=2687&amp;pid=68981#post_68981]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Imamuna Al-Ghazali menyebut 3 Perkara yg menjadi sebab kpd KUFURnya ahli falsafah Islam di dalam kitab tahafut al-falasifah;</p>
<p>1) Mengatakan alam ini qadim.<br />
2) Allah Ta&#8217;ala hanya mengetahui perkara2 yg kulliyat (umum) dan tidak mengetahui perkara yg juziyyat (kecil2).<br />
3) Manusia dibangkitkan dengan roh sahaja tanpa jasad pada hari kiamat.</p>
<p>Kesimpulan ;</p>
<p>Ilmu falsafah boleh menjadi SAMPAH jika tidak didasari dengan al-Quran dan as-Sunnah. Disarankan supaya mendalami ilmu aqidah terlebih dahulu supaya tidak tergelincir dari landasan ahli sunnah wal jamaah. Dan ilmu falsafah boleh menjadi PERMATA yg tidak ada nilainya jika kita menemui jalan yg benar dalam memahaminya seperti yg difahami oleh al-Ghazali..</p>
<p>Dari <a href="http://www.iluvislam.com/v1/forum/viewthread.php?forum_id=131&#038;thread_id=2687&#038;pid=68981#post_68981" rel="nofollow">http://www.iluvislam.com/v1/forum/viewthread.php?forum_id=131&#038;thread_id=2687&#038;pid=68981#post_68981</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

