SA53 Petikan Puasa 10 – Pengalaman …

Al-Gazali dan Ibn Arabi

Kecerdasan spiritual menurut Al-Gazali dapat diperoleh melalui wahyu dan atau ilham. Wahyu merupakan “kata-kata” yang menggambarkan hal-hal yang tidak dapat dilihat secara umum, yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya dengan maksud supaya disampaikan kepada orang lain sebagai petunjuk_nya. Sedangkan ilham hanya merupakan “pengungkapan” (mukasyafah) kepada manusia pribadi yang disampaikan melalui batinnya. Al-Gazali tidak membatasi ilham itu hanya pada wali tetapi diperuntukkan kepada siapapun juga yang diperkenankan oleh Allah.

Menurut Al-Gazali, tidak ada perantara antara manusia dan pencipta-Nya. Ilham diserupakan dengan cahaya yang jatuh di atas hati yang murni dan sejati, bersih, dan lembut. Dari sini Al-Gazali tidak setuju ilham disebut atau diterjemahkan dengan intuisi. Ilham berada di wilayah supra conciousnes sedangkan intuisi hanya merupakan sub-conciousnes. Allah Swt sewaktu-waktu dapat saja mengangkat tabir yang membatasi Dirinya dengan makhluk-Nya. Ilmu yang diperoleh secara langsung dari Allah Swt, itulah yang disebut ‘Ilm al-Ladunny oleh Al-Gazali.[12]

Orang yang tidak dapat mengakses langsung ilmu pengetahuan dari-Nya tidak akan menjadi pandai, karena kepandaian itu dari Allah Swt. Al-Gazali mengukuhkan pendapatnya dengan mengutip Q.S. Al-Baqarah [2:269] Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran

Ibn Arabi menganalisis lebih mikro lagi tentang kecerdasan spiritual dengan dihubungkannya kepada tiga sifat ilmu pengetahuan ini, yaitu yaitu pengetahuan kudus (‘ilm al-ladunni), ilmu pengetahuan misteri-misteri (‘ilm al-asr±r) dan ilmu pengetahuan tentang gaib (‘ilm al-gaib).[14] Ketiga jenis ilmu pengetahuan ini tidak dapat diakses oleh kecerdasan intelektual. Tentang kecerdasan intelektual, Ibn ‘Arabi cenderung mengikuti pendapat Al-Hallaj yang menyatakan bahwa intelektualitas manusia tidak mampu memahami realitas-realitas. Hanya dengan kecerdasan spirituallah yang mampu memahami ketiga sifat ilmu pengetahuan tersebut di atas.

Al-Gazali dan Ibn ‘Arabi mempunyai kedekatan pendapat di sekitar aksessibilitas kecerdasan spiritual. Menurut Al-Gazali, jika seseorang mampu mensinergikan berbagai kemampuan dan kecerdasan yang ada pada diri manusia, maka yang bersangkutan dapat “membaca” alam semesta. Kemampuan membaca alam semesta di sini merupakan anak tangga menuju pengetahuan (ma’rifah) tentang pencipta-Nya. Karena alam semesta menurut Al-Gazali merupaka “tulisan” Allah Swt.

Menurut Al-Gazali, hampir seluruh manusia pada dasarnya dilengkapi dengan kemampuan untuk mencapai tingkat kenabian dalam mengetahui kebenaran, antara lain dengan kemampuan membaca alam semesta tadi. Fenomena “kenabian” bukanlah sesuatu yang supernatural, yang tidak memberi peluang bagi manusia dengan sifat-sifatnya untuk “menerimanya”. Dengan pemberian kemampuan dan berbagai kecerdasan kepada manusia, maka “kenabian” menjadi fenomena alami. Keajaiban yang menyertai para Rasul sebelum Nabi Muhammad bukanlah aspek integral dari “kenabian”, tetapi hanyalah alat untuk pelengkap alam mempercepat umat percaya dan meyakini risalah para Rasul

5 Responses to SA53 Petikan Puasa 10 – Pengalaman …

  1. Pak Din berkata:

    Pernah Imam Syafi’i ditanya: “Apakah kemampuan akal itu merupakan potensi yang dibawa sejak lahir?” Jawabnya: “Tidak, tapi akal itu adalah hasil dari pergaulan dengan banyak orang dan berdiskusi dengan mereka.”
    Mengenai hal itu, Ibnu Sina pernah menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan pada anaknya teman bermain dengan perkataannya: “Hendaklah ada bersama anak-anak di mejanya anak-anak lain yang baik adabnya dan diridhai adapt kebiasaannya, karena anak dengan anak itu saling mengerti, mengambil dan mengasihi.”
    Di lain kesempatan, Imam Syafi’i pernah menganjurkan kepada barang siapa yang ingin akalnya menjadi jenius agar belajar matematika dengan perkataannya: “Siapa yang mempelajari matematika maka jeniuslah akalnya.”[8]
    Otak manusia tidak pernah berhenti tumbuh. Sepanjang usia manusia, sejauh ia mengisi otaknya dengan informasi-informasi baru, maka otaknya tidak akan aus dan rusak.[9] Dan, ini senada dengan hadits Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Nawadirnya: “Gerak, gairah dan kekuatan berkumpul anak bersama teman-temannya yang lain pada masa kecilnya akan memberikan tambahan pada akalnya ketika dewasa.”
    Oleh karena itu, jika kita menginginkan akal itu bisa berkembang dengan baik, kita harus menyediakan media yang baik yang mendukung perkembangan akal itu sendiri. Media itu misalnya makanan, lingkungan dan ajaran agama.

    http://el-hamidy.blogspot.com/2009/06/konsep-kecerdasan-intelektual-dalam.html

  2. Pak Din berkata:

    Tentunya hal itu tidak terlepas dari kerangka ontologi (hakekat jiwa), epistimologi (bagaimana cara mempelajari jiwa), dan aksiologi (tujuan mempelajari jiwa) dalam Islam. Melalui kerangka ini maka akan tercipta beberapa bagian psikologi dalam Islam, seperti Psikopatologi Islam, Psikoterapi Islam, Psikologi Agama Islam, Psikologi Perkembangan Islam, Psikologi Sosial Islam, dan sebagainya.

    Kedua, bahwa Psikologi Islam membicarakan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia. Aspek-aspek kejiwaan dalam Islam berupa al-ruh, al-nafs, al-kalb, al-`aql, al-dhamir, al-lubb, al-fuad, al-sirr, al-fithrah, dan sebagainya. Masing-masing aspek tersebut memiliki eksistensi, dinamisme, proses, fungsi, dan perilaku yang perlu dikaji melalui al-Quran, al-Sunnah, serta dari khazanah pemikiran Islam. Psikologi Islam tidak hanya menekankan perilaku kejiwaan, melainkan juga apa hakekat jiwa sesungguhnya. Sebagai satu organisasi permanen, jiwa manusia bersifat potensial yang aktualisasinya dalam bentuk perilaku sangat tergantung pada daya upaya (ikhtiyar)-nya. Dari sini nampak bahwa psikologi Islam mengakui adanya kesadaran dan kebebasan manusia untuk berkreasi, berpikir, berkehendak, dan bersikap secara sadar, walaupun dalam kebebasan tersebut tetap dalam koredor sunnah-sunnah Allah Swt.

    http://isaliyah.blog.friendster.com/hakekat-psikologi-islam/
    http://article.gmane.org/gmane.culture.religion.healer.mayapada/12240

  3. Pak Din berkata:

    Al-Quran tidak “membuktikan” adanya Tuhan tetapi “menunjukkan” cara untuk mengenal Tuhan melalui alam semesta yang ada. Bahkan seandainya tidak ada alam semesta yang bekerja sesuai dengan hukumnya, sedang yang ada hanyalah satu hal saja, maka hal ini pun karena sifat ketergantungannya, akan menunjukkan ke arah Tuhan. Hal ini juga dijelaskan oleh M. Quraish Shihab, kalau kita membuka lembaran-lembaran al-Qur’an, hampir tidak ditemukan ayat yang membicarakan wujud Tuhan. Al-Qur’an hanya mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap insan dan bahwa hal tersebut merupakan fitrah (bawaan) manusia sejak asal kejadiannya.

    http://mencerahkan.wordpress.com/2009/03/06/korelasi-antara-iman-dan-ilmu-pengetahuan-dalam-tindakan/

  4. Pak Din berkata:

    Diriwayatkan melalui Imam Shadiq bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Waspadalah terhadap hawa nafsu kalian sebagaimana kamu sekalian waspada terhadap musuh. Tiada yang lebih pantang bagi manusia daripada mengikuti hawa nafsu dan ketergelinciran lidah yang tak bertulang.”
    Imam Shadiq juga berkata: “Janganlah kalian biarkan jiwa bersanding bersama hawa nafsu. Karena, hawa nafsu pasti (membawa) kehinaan bagi jiwamu.”
    Enam Sumber dalam Jiwa Manusia
    Untuk mengenal posisi hawa nafsu dalam jiwa dan perannya dalam kehidupan manusia, saya perlu menegaskan bahwa Allah SWT telah memasang beberapa sumber gerak dan kesadaran manusia. Semua gerak -aktif ataupun reaktif- dan kesadaran manusia bermuara dari sumber-sumber ini. Tercatat ada enam sumber penting, yang terutamanya adalah hawa nafsu, sebagai berikut.
    1. Fithrah, yang telah dilengkapi Allah dengan kecenderungan, hasrat dan gaya tarik menuju dan mengenal-Nya dan meraih keutamaan-keutamaan akhlak, seperti kesetiaan, `iffah (harga diri), belas kasih dan murah hati.
    2. `Aql, adalah titik pembeda manusia.
    3. Iradah, adalah pusat keputusan dan yang menjamin kebebasan manusia (dalam mengambil keputusan) dan kemerdekaannya.
    4. Dhamir, yang berfungsi sebagai mahkamah dalam jiwa. Ia bertugas mengadili, mengecam dan melakukan penekanan terhadap manusia demi menyeimbangkan prilakunya.
    5. Qalb, fuad dan shadr, merupakan jendela lain bagi kesadaran dan pengetahuan, sebagaimana kita pahami melalui ayat-ayat Alquran, yang dapat menerima atau menampung pencerahan Ilahi.
    6. Al-hawa, adalah kumpulan berbagai nafsu dan keinginan dalam jiwa manusia yang menuntut pemenuhan secara intensif. Bila tuntutannya terpenuhi, ia dapat memberi manusia kenikmatan tersendiri.
    Inilah enam sumber penting bagi gerak dan kesadaran jiwa manusia yang telah diberikan oleh Allah.

    http://www.lumajang.go.id/artikel1.php?nid=10
    http://www.al-shia.org/html/id/quran/buku-dan/28.htm

  5. [...] “Menurut Al-Gazali, hampir seluruh manusia pada dasarnya dilengkapi dengan kemampuan untuk mencapai tingkat kenabian [...]

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.